Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Selamat datang kembali di serial Nahwu Al-Ajurumiyyah! Pada artikel sebelumnya, kita telah menyelami konsep I’rab, yaitu perubahan harakat atau huruf akhir kata yang disebabkan oleh ‘Amil yang masuk padanya. Kini, kita akan membahas pasangan dari I’rab, yaitu Bina (tetap) dan Mabni (kata yang tetap).

Memahami I’rab dan Bina adalah dua sisi mata uang yang sangat fundamental dalam Ilmu Nahwu. Jika I’rab menjelaskan tentang kata-kata yang bisa berubah, maka Bina menjelaskan tentang kata-kata yang tidak berubah. Dengan memahami keduanya, Anda akan memiliki gambaran lengkap tentang bagaimana kata-kata berperilaku dalam kalimat Bahasa Arab.

Pengertian I’rab, Mu’rab, Bina, dan Mabni

Untuk memperjelas, mari kita definisikan ulang dan bandingkan istilah-istilah penting ini:

    • I’rab (الإِعْرَابُ): Proses perubahan harakat atau huruf akhir sebuah kata karena perbedaan ‘Amil (faktor gramatikal) yang memasukinya. I’rab bisa terlihat jelas (lafzhi) atau tersembunyi (taqdiri).
    • Mu’rab (المُعْرَبُ): Kata yang dapat menerima I’rab; yaitu kata yang harakat atau huruf akhirnya bisa berubah sesuai dengan kedudukannya dalam kalimat.
    • Bina (البِنَاءُ): Keadaan tetapnya harakat atau huruf akhir sebuah kata, meskipun ‘Amil yang masuk padanya berbeda-beda. Jadi, ia tidak berubah sama sekali.
    • Mabni (المَبْنِيُّ): Kata yang berada dalam kondisi Bina; yaitu kata yang harakat atau huruf akhirnya selalu tetap dan tidak berubah, apapun kedudukannya dalam kalimat.

Perbedaan Mu’rab dan Mabni

Fitur

Mu’rab (المعرب)

Mabni (المبني)

Definisi

Kata yang berubah akhir katanya.

Kata yang tetap akhir katanya.

Perubahan

Berubah (harakat/huruf akhir)

Tetap (harakat/huruf akhir tidak berubah)

Penyebab

Pengaruh ‘Amil yang berbeda

Tidak terpengaruh ‘Amil

Tanda Akhir

Ditandai dengan Rafa’, Nashab, Jar, Jazm

Selalu tetap (dhammah, fathah, kasrah, sukun)

Contoh

مُحَمَّدٌ، مُحَمَّدًا، مُحَمَّدٍ

هَذَا (selalu ini)

Jenis-Jenis Bina

Sebagaimana I’rab memiliki tanda-tanda (rafa’ dengan dhammah, nashab dengan fathah, dst.), Bina juga memiliki “tanda-tanda” (lebih tepatnya bentuk tetap) di akhirnya. Sebuah kata yang Mabni akan selalu diakhiri dengan salah satu dari empat bentuk berikut:

  1. Bina atas Dhammah (بناء على الضم): Harakat akhir kata Mabni adalah dhammah.
    • Contoh: نَحْنُ (kami), أَمْسِ (kemarin – dalam sebagian dialek), حَيْثُ (di mana saja).
  2. Bina atas Fathah (بناء على الفتح): Harakat akhir kata Mabni adalah fathah.
    • Contoh: كَتَبَ (telah menulis – Fi’il Madhi), أَيْنَ (di mana?), كَيْفَ (bagaimana?).
  3. Bina atas Kasrah (بناء على الكسر): Harakat akhir kata Mabni adalah kasrah.
    • Contoh: هَؤُلَاءِ (mereka ini), أَمْسِ (kemarin – yang sering digunakan).
  4. Bina atas Sukun (بناء على السكون): Harakat akhir kata Mabni adalah sukun. Ini adalah jenis Bina yang paling umum.
    • Contoh: مِنْ (dari), مَنْ (siapa), هُوَ (dia), اِذْهَبْ (pergilah!).

Kata-kata yang Termasuk Mu’rab

Secara umum, kata-kata yang Mu’rab (bisa berubah) adalah:

  • Isim: Sebagian besar Isim adalah Mu’rab, kecuali Isim-isim tertentu yang akan kita bahas di bagian Mabni.

    • Contoh:

      • اَلْكِتَابُ (buku itu) – bisa menjadi الْكِتَابَ, الْكِتَابِ

      • مُسْلِمٌ (seorang Muslim) – bisa menjadi مُسْلِمًا, مُسْلِمٍ

      • اَلْمُعَلِّمُوْنَ (para guru laki-laki) – bisa menjadi الْمُعَلِّمِيْنَ

  • Fi’il: Hanya Fi’il Mudhari’ yang tidak bersambung dengan Nun Taukid atau Nun Niswah.

    • Contoh:

      • يَكْتُبُ (dia sedang menulis) – bisa menjadi لَنْ يَكْتُبَ, لَمْ يَكْتُبْ

      • يَذْهَبُوْنَ (mereka sedang pergi) – bisa menjadi لَنْ يَذْهَبُوْا, لَمْ يَذْهَبُوْا

  • Harf: Tidak ada Harf yang Mu’rab. Semua Harf adalah Mabni.

Kata-kata yang Termasuk Mabni

Secara umum, kata-kata yang Mabni (tetap) adalah:

  • Isim: Isim-isim tertentu, seperti Isim Dhamir, Isim Isyarah, Isim Maushul, dll. (akan dirinci di bawah).

  • Fi’il: Fi’il Madhi dan Fi’il Amr. Juga Fi’il Mudhari’ yang bersambung langsung dengan Nun Taukid atau Nun Niswah.

  • Harf: Semua jenis Harf adalah Mabni.

Isim-Isim yang Mabni

Berikut adalah Isim-isim yang bersifat Mabni (tetap) dan tidak akan berubah harakat akhirnya:

  1. Isim Isyarah (اِسْمُ الإِشَارَةِ): Kata tunjuk.
    • Contoh: هَذَا (ini (lk)), هَذِهِ (ini (pr)), ذَلِكَ (itu (lk)), تِلْكَ (itu (pr)), أُولَئِكَ (mereka itu).

    • Catatan: هَذَانِ (dua ini – lk) dan هَاتَانِ (dua ini – pr) adalah Mu’rab, karena berubah seperti Isim Tatsniyah.

  2. Isim Maushul (اِسْمُ الْمَوْصُوْلِ): Kata sambung yang berarti “yang” atau “orang yang”.
    • Contoh: الَّذِي (yang (lk. tunggal)), الَّتِي (yang (pr. tunggal)), الَّذِيْنَ (yang (lk. jamak)), اللَّاتِي (yang (pr. jamak)).

    • Catatan: اللَّذَانِ (dua yang – lk) dan اللَّتَانِ (dua yang – pr) adalah Mu’rab, karena berubah seperti Isim Tatsniyah.

  3. Isim Syarat (اِسْمُ الشَّرْطِ): Kata yang digunakan untuk menunjukkan syarat.
    • Contoh: مَنْ (siapa saja), مَا (apa saja), مَتَى (kapan saja), أَيْنَ (di mana saja), كَيْفَمَا (bagaimana saja).

    • Contoh kalimat: مَنْ يَجْتَهِدْ يَنْجَحْ (Siapa saja yang bersungguh-sungguh, dia akan berhasil).

  4. Isim Fa’il (اِسْمُ الْفَاعِلِ): Ini sepertinya ada kekeliruan penulisan di materi Anda, karena Isim Fa’il (yang berarti “pelaku”) adalah Mu’rab. Mungkin yang dimaksud adalah Isim Fi’il (اِسْمُ الْفِعْلِ) yang berfungsi seperti Fi’il namun Mabni.
    • Isim Fi’il: Kata yang memiliki makna dan fungsi seperti Fi’il, namun ia Mabni.

    • Contoh: صَهْ (diamlah!), آمِينَ (kabulkanlah!).

  5. Sebagian Zharf (بَعْضُ الظُّرُوفِ): Keterangan waktu atau tempat tertentu.
    • Contoh: حَيْثُ (di mana saja), الْآنَ (sekarang), أَمْسِ (kemarin), إِذْ (ketika/dahulu), إِذَا (apabila).

    • Contoh kalimat: جَلَسْتُ حَيْثُ جَلَسَ أَحْمَدُ (Aku duduk di mana Ahmad duduk).

  6. Nama yang Berakhiran وَيْهِ (اسم العلم المختوم بويه): Nama diri yang diakhiri dengan pola suara “waihi”.
    • Contoh: سِيبَوَيْهِ (Sibawaih), عَمْرَوَيْهِ (Amrawaih).

    • Contoh kalimat: جَاءَ سِيبَوَيْهِ (Sibawaih telah datang). (Tetap berharakat kasrah di akhir).

  7. ‘Adad Murakkab (العدد المركب): Bilangan tersusun dari 11 hingga 19 (kecuali 12).
    • Contoh: أَحَدَ عَشَرَ (sebelas), خَمْسَةَ عَشَرَ (lima belas).

    • Contoh kalimat: رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا (Aku melihat sebelas bintang). (Bagian depan dan belakang tetap fathah).

  8. Isim Dhamir (اِسْمُ الضَّمِيرِ): Kata ganti. Semua dhamir adalah Mabni.
    • Contoh: هُوَ (dia (lk)), هِيَ (dia (pr)), أَنْتَ (kamu (lk)), أَنَا (saya), نَحْنُ (kami), هُمْ (mereka (lk)).

    • Contoh kalimat: هُوَ طَالِبٌ (Dia adalah seorang siswa). (هُوَ selalu dhammah).

  9. Isim Istifham (اِسْمُ الِاسْتِفْهَامِ): Kata tanya (selain huruf istifham هَلْ dan أَ).
    • Contoh: مَنْ (siapa?), مَا (apa?), مَتَى (kapan?), أَيْنَ (di mana?), كَيْفَ (bagaimana?), كَمْ (berapa?).

    • Contoh kalimat: مَنْ جَاءَ؟ (Siapa yang datang?). (مَنْ selalu sukun).

  10. Lain-lain yang belum saya sebutkan: Ada juga Isim Fi’il, Isim La Nafyil Jins, dan beberapa Isim Ghairu Munsharif yang dalam kondisi tertentu bisa dianggap Mabni, namun untuk tingkat pemula, daftar di atas adalah yang paling penting.

Fi’il-Fi’il yang Mabni

Beberapa jenis Fi’il selalu Mabni dan tidak berubah harakat akhirnya:

  1. Fi’il Madhi (فِعْلُ الْمَاضِي): Selalu Mabni.
    • Bina di atas Fathah: Jika tidak bersambung dengan apa-apa atau bersambung dengan Ta Ta’nits Sakinah atau Alif Tatsniyah.

      • Contoh: كَتَبَ (dia telah menulis), كَتَبَتْ (dia (pr) telah menulis), كَتَبَا (mereka berdua telah menulis).

    • Bina di atas Sukun: Jika bersambung dengan Ta Fa’il (dhamir rafa’ mutaharrik) atau Nun Niswah.

      • Contoh: كَتَبْتُ (aku telah menulis), كَتَبْنَ (mereka (pr) telah menulis).

    • Bina di atas Dhammah: Jika bersambung dengan Wawu Jamak.

      • Contoh: كَتَبُوا (mereka (lk) telah menulis).

  2. Fi’il Amr (فِعْلُ الْأَمْرِ): Selalu Mabni.
    • Fi’il Amr Mabni di atas harakat sukun, atau fathah, atau membuang huruf illat, atau membuang nun, tergantung bentuk mudhari’nya.

    • Contoh:

      • اُكْتُبْ! (tulislah! – Mabni di atas sukun)

      • اِجْلِسَا! (duduklah kalian berdua! – Mabni dengan membuang nun)

      • اِرْمِ! (lemparlah! – Mabni dengan membuang huruf illat)

      • اُدْخُلَنَّ! (sungguh masuklah! – Mabni di atas fathah karena Nun Taukid)

  3. Fi‘il Mudhari‘ yang Bersambung dengan Nun:
    • Fi’il Mudhari’ pada dasarnya Mu’rab, namun menjadi Mabni jika bersambung langsung dengan dua jenis Nun:

    • Nun Taukid (نُونُ التَّوْكِيدِ): Nun yang berfungsi menguatkan atau menegaskan makna.

      • Bina di atas Fathah: Jika bersambung langsung dengan Nun Taukid (baik khafifah atau tsaqilah).

      • Contoh: لَيَكْتُبَنَّ (sungguh dia akan menulis), لَتَذْهَبَنَّ (sungguh kamu akan pergi).

      • Contoh dari Al-Qur’an: لَنَسْفَعًا بِالنَّاصِيَةِ (Sungguh Kami akan menarik ubun-ubunnya). (QS. Alaq: 15)

    • Nun Niswah (نُونُ النِّسْوَةِ): Nun yang menunjukkan pelaku perempuan jamak.

      • Bina di atas Sukun: Jika bersambung langsung dengan Nun Niswah.

      • Contoh: الْبَنَاتُ يَكْتُبْنَ (Anak-anak perempuan itu menulis), هُنَّ يَذْهَبْنَ (Mereka (pr) pergi).

      • Contoh dari Al-Qur’an: وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ (Para ibu hendaklah menyusui anak-anak mereka). (QS. Baqarah: 233)

Semua Huruf Mabni

Ini adalah aturan yang sangat penting dan mudah diingat:

  • Semua huruf dalam Bahasa Arab adalah Mabni.

  • Artinya, harakat akhir huruf tidak akan pernah berubah, tidak peduli ‘Amil apa yang masuk padanya atau kedudukannya dalam kalimat.

  • Bentuk Bina pada huruf bisa bermacam-macam (sukun, fathah, kasrah, dhammah), tetapi yang jelas, ia selalu tetap.

Contoh-contoh Huruf yang Mabni:

Huruf

Arti

Bina di atas

Contoh Kalimat

مِنْ

dari

Sukun

خَرَجْتُ مِنَ الْبَيْتِ

إِلَى

ke

Sukun

ذَهَبْتُ إِلَى الْمَسْجِدِ

عَلَى

di atas

Sukun

الْكِتَابُ عَلَى الْمَكْتَبِ

فِي

di dalam

Sukun

أَنَا فِي الْفَصْلِ

وَ

dan, demi

Fathah

جَاءَ مُحَمَّدٌ وَعَلِيٌّ

لَنْ

tidak akan

Sukun

لَنْ أَذْهَبَ

لَمْ

belum

Sukun

لَمْ يَكْتُبْ

يَا

wahai

Sukun

يَا رَبِّ

هَلْ

apakah

Sukun

هَلْ أَنْتَ طَالِبٌ؟

ثُمَّ

kemudian

Fathah

أَكَلْتُ ثُمَّ نِمْتُ

أَنَّ

bahwa sesungguhnya

Fathah

عَلِمْتُ أَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ

لِـ

untuk, milik

Kasrah

الْكِتَابُ لِمُحَمَّدٍ

بَـ

dengan, demi

Kasrah

كَتَبْتُ بِالْقَلَمِ

Contoh dari Ayat-ayat Al-Qur’an

Mari kita identifikasi Mabni pada beberapa kata dalam ayat-ayat Al-Qur’an:

1. QS. Al-Ikhlas (112) 1:

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dialah Allah Yang Maha Esa.

    • قُلْ: Fi’il Amr. Mabni di atas sukun.

    • هُوَ: Isim Dhamir. Mabni di atas fathah.

2. QS. Al-Baqarah (2) 2:

ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ

Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.

    • ذَٰلِكَ: Isim Isyarah. Mabni di atas fathah.

    • لَا: Harf Nafi. Mabni di atas sukun.

    • فِي: Harf Jar. Mabni di atas sukun.

    • ـهِ (pada فيه): Isim Dhamir. Mabni di atas kasrah.

    • لِـ (pada للمتقين): Harf Jar. Mabni di atas kasrah.

3. QS. Al-Fatihah (1) 6:

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ

Bimbinglah kami ke jalan yang lurus.

    • اِهْدِنَا: Fi’il Amr (اِهْدِ) Mabni dengan membuang huruf illat. Nun (نَا) adalah Isim Dhamir Mabni di atas sukun.

4. QS. Al-Baqarah (2) 183:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

    • يَا: Harf Nida. Mabni di atas sukun.

    • أَيُّهَا: Isim Nida yang Mabni di atas dhammah.

    • الَّذِينَ: Isim Maushul. Mabni di atas fathah.

    • آمَنُوا: Fi’il Madhi. Mabni di atas dhammah.

    • عَلَيْكُمُ: Harf Jar (عَلَى) Mabni di atas sukun, dan Isim Dhamir (كُمُ) Mabni di atas dhammah.

    • كَمَا: Harf (كَـ) Mabni di atas fathah, dan Isim Maushul (مَا) Mabni di atas sukun.

    • مِنْ: Harf Jar. Mabni di atas sukun.

    • قَبْلِكُمْ: Isim Zharf (قَبْلِ) Mu’rab (di sini majrur), tapi Dhamir (كُم) Mabni di atas sukun.

    • لَعَلَّكُمُ: Harf Taukid (لَعَلَّ) Mabni di atas fathah, dan Isim Dhamir (كُمُ) Mabni di atas dhammah.

Ringkasan Materi

    • I’rab: Perubahan akhir kata. Mu’rab: Kata yang bisa berubah.

    • Bina: Tetapnya akhir kata. Mabni: Kata yang harakat akhirnya selalu tetap.

    • Jenis Bina: Di atas dhammah, fathah, kasrah, atau sukun.

    • Yang Mu’rab: Sebagian besar Isim dan Fi’il Mudhari’ (kecuali jika bersambung Nun Taukid/Niswah).

    • Yang Mabni:

      • Isim: Isim Isyarah, Isim Maushul, Isim Syarat, Isim Fi’il, sebagian Zharf, nama berakhiran وَيْهِ, ‘Adad Murakkab, semua Isim Dhamir, Isim Istifham.

      • Fi’il: Fi’il Madhi dan Fi’il Amr (selalu Mabni). Fi’il Mudhari’ yang bersambung Nun Taukid atau Nun Niswah.

      • Huruf: Semua Huruf adalah Mabni.

Soal-soal Latihan

Tentukan apakah kata yang digarisbawahi dalam kalimat berikut adalah Mu’rab atau Mabni. Jika Mabni, sebutkan jenisnya (Isim/Fi’il/Harf) dan Bina di atas apa. Jika Mu’rab, sebutkan I’rabnya (Rafa’, Nashab, Jar, atau Jazm) dan tandanya (lafzhi/taqdiri).

  1. قَالَ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
    • Kata: هُوَ (Huwa) – “Dia”
    • Mu’rab/Mabni:
    • Penjelasan:
  2. رَأَيْتُ تِلْكَ الْفَتَاةَ
    • Kata: تِلْكَ (Tilka) – “Itu”
    • Mu’rab/Mabni:
    • Penjelasan:
  3. الْبَنَاتُ يَكْتُبْنَ الدَّرْسَ
    • Kata: يَكْتُبْنَ (Yaktubna) – “Mereka (pr) menulis”
    • Mu’rab/Mabni:
    • Penjelasan:
  4. اَلْكِتَابُ عَلَى الْمَكْتَبِ
    • Kata: عَلَى (‘Ala) – “Di atas”
    • Mu’rab/Mabni:
    • Penjelasan:
  5. لَنْ أَذْهَبَ إِلَى السُّوقِ
    • Kata: أَذْهَبَ (Adzhaba) – “Aku pergi”
    • Mu’rab/Mabni:
    • Penjelasan:

Jawaban dan Pembahasan Soal-soal

Mari kita periksa jawaban Anda:

  1. قَالَ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
    • Kata: هُوَ (Huwa) – “Dia”
    • Mu’rab/Mabni: Mabni.
    • Penjelasan: Ia adalah Isim Dhamir, dan semua Isim Dhamir adalah Mabni. Bina di atas fathah.
  2. رَأَيْتُ تِلْكَ الْفَتَاةَ
    • Kata: تِلْكَ (Tilka) – “Itu”
    • Mu’rab/Mabni: Mabni.
    • Penjelasan: Ia adalah Isim Isyarah, dan sebagian besar Isim Isyarah adalah Mabni. Bina di atas fathah.
  3. الْبَنَاتُ يَكْتُبْنَ الدَّرْسَ
    • Kata: يَكْتُبْنَ (Yaktubna) – “Mereka (pr) menulis”
    • Mu’rab/Mabni: Mabni.
    • Penjelasan: Ia adalah Fi’il Mudhari’ yang bersambung dengan Nun Niswah. Fi’il Mudhari’ menjadi Mabni jika bersambung dengan Nun Niswah (Bina di atas sukun).
  4. اَلْكِتَابُ عَلَى الْمَكْتَبِ
    • Kata: عَلَى (‘Ala) – “Di atas”
    • Mu’rab/Mabni: Mabni.
    • Penjelasan: Ia adalah Harf Jar, dan semua Harf adalah Mabni. Bina di atas sukun.
  5. لَنْ أَذْهَبَ إِلَى السُّوقِ
    • Kata: أَذْهَبَ (Adzhaba) – “Aku pergi”
    • Mu’rab/Mabni: Mu’rab.
    • Penjelasan: Ia adalah Fi’il Mudhari’. I’rabnya adalah Nashab karena didahului oleh لَنْ (huruf nashab). Tanda nashabnya adalah fathah lafzhi yang terlihat jelas di akhir kata.

Penutup

Alhamdulillah, kita telah menuntaskan pembahasan mengenai Bina dan Mabni, serta perbedaan mendasar antara kata-kata yang berubah dan yang tetap. Memahami materi ini adalah fondasi yang sangat kuat dalam Ilmu Nahwu, karena Anda kini tahu jenis-jenis kata mana yang perlu diperhatikan perubahan harakat akhirnya dan mana yang tidak.

Pada artikel berikutnya, insyaallah kita akan mulai membahas secara spesifik tentang Macam-Macam I’rab (Rafa’, Nashab, Jar, dan Jazm) dan tanda-tanda khusus untuk masing-masing kondisi I’rab tersebut. Materi ini akan semakin mempertajam kemampuan Anda dalam menganalisis kalimat Bahasa Arab.

Terus semangat dan istiqamah dalam belajar! Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan dan pemahaman bagi kita semua.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.