Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Selamat datang kembali di serial Nahwu Al-Ajurumiyyah! Setelah tuntas membahas tanda-tanda Isim, Fi’il, dan Harf, kita kini memiliki bekal untuk mengenali jenis setiap kata dalam Bahasa Arab. Langkah selanjutnya adalah memahami bagaimana kata-kata tersebut “berinteraksi” dalam sebuah kalimat, yang disebut dengan I’rab.

Pembahasan I’rab ini adalah jantung dari Ilmu Nahwu. Matan Al-Ajurumiyyah memulai bab I’rab dengan definisi yang sangat fundamental:

الإِعْرَابُ هُوَ تَغْيِيرُ أَوَاخِرِ الْكَلِمِ، لاخْتِلَافِ الْعَوَامِلِ الدَّاخِلَةِ عَلَيْهَا لَفْظًا أَوْ تَقْدِيرًا.

I’rab adalah perubahan akhir kata, karena perbedaan ‘Amil (faktor/pengaruh) yang masuk padanya, baik secara jelas (lafzhi) atau secara perkiraan (taqdiri).

Mari kita bedah definisi ini satu per satu agar Anda bisa memahami konsep I’rab dengan mendalam.

Definisi I’rab

Dari definisi di atas, kita bisa menarik beberapa poin penting:

  1. تَغْيِيرُ أَوَاخِرِ الْكَلِمِ (Perubahan Akhir Kata):
    • Ini adalah inti dari I’rab. Perubahan yang dimaksud terjadi pada harakat (vokal) atau huruf terakhir dari sebuah kata.
    • Perubahan ini bukan pada bentuk dasar kata (itu urusan Ilmu Sharaf), melainkan pada penanda gramatikal di bagian akhir kata.
    • Contoh: Kata “مُحَمَّدٌ” bisa berubah menjadi “مُحَمَّدًا” atau “مُحَمَّدٍ” di akhir. Kata “مُسْلِمُوْنَ” bisa menjadi “مُسْلِمِيْنَ“.
  2. لاخْتِلَافِ الْعَوَامِلِ الدَّاخِلَةِ عَلَيْهَا (Karena Perbedaan ‘Amil yang Masuk Padanya):
    • Perubahan akhir kata ini bukan terjadi begitu saja, melainkan karena ada “Amil” (عامل) yang mempengaruhinya.
    • ‘Amil adalah faktor-faktor dalam kalimat yang menyebabkan sebuah kata harus berada dalam kondisi I’rab tertentu (misalnya rafa’, nashab, atau jar). ‘Amil bisa berupa kata kerja (fi’il), huruf (harf), atau bahkan posisi kata dalam kalimat.
    • Contoh:
      • Dalam kalimat جَاءَ مُحَمَّدٌ (Muhammad datang), Fi’il “جَاءَ” (datang) adalah ‘Amil yang menjadikan “مُحَمَّدٌ” berada dalam kondisi Rafa’ (ditandai dengan dhammah) karena berfungsi sebagai pelaku (Fa’il).
      • Dalam kalimat رَأَيْتُ مُحَمَّدًا (Aku melihat Muhammad), Fi’il “رَأَيْتُ” (aku melihat) adalah ‘Amil yang menjadikan “مُحَمَّدًا” berada dalam kondisi Nashab (ditandai dengan fathah) karena berfungsi sebagai objek (Maf’ul Bih).
      • Dalam kalimat مَرَرْتُ بِمُحَمَّدٍ (Aku melewati Muhammad), Huruf Jar “بِـ” (dengan/melalui) adalah ‘Amil yang menjadikan “مُحَمَّدٍ” berada dalam kondisi Jar (ditandai dengan kasrah).
  3. لَفْظًا أَوْ تَقْدِيرًا (Secara Jelas atau Secara Perkiraan):
    • Ini menjelaskan bagaimana perubahan I’rab itu terlihat atau tidak terlihat.
    • Lafzhi (لَفْظًا): Perubahan harakat atau huruf di akhir kata terlihat dengan jelas saat diucapkan atau ditulis.
    • Taqdiri (تَقْدِيْرًا): Perubahan harakat atau huruf di akhir kata tidak terlihat (tersembunyi) karena ada penghalang tertentu, namun secara gramatikal diasumsikan ada.

Apa yang Berubah dalam I‘rab?

Yang mengalami perubahan dalam I’rab adalah Isim-isim Mu’rab (Isim yang bisa berubah) dan Fi’il Mudhari’. Harf dan Fi’il Madhi serta Fi’il Amr tidak mengalami I’rab; mereka disebut Mabni (tetap/tidak berubah).

Perubahan yang terjadi meliputi:

  • Harakat akhir kata: dhammah, fathah, kasrah, atau sukun.
  • Huruf akhir kata: penambahan atau pengurangan huruf (misalnya wawu, alif, ya’, atau nun).

Macam-Macam Perubahan I‘rab

Seperti yang disebutkan dalam definisi, I’rab terbagi menjadi dua macam berdasarkan cara perubahannya terlihat.

1. I‘rab Lafzhi (الإعراب اللفظي)

I’rab Lafzhi adalah I’rab di mana tanda perubahan harakat atau huruf di akhir kata terlihat dengan jelas (dilafazkan dan ditulis). Ini adalah jenis I’rab yang paling umum.

Contoh-contoh I’rab Lafzhi:

  • Untuk Isim:

    • جَاءَ مُحَمَّدٌ (Muhammad telah datang)

      • Kata “مُحَمَّدٌ” dalam kondisi Rafa’ (Subjek), tandanya dhammah tanwin yang terlihat jelas (ـٌ).

    • رَأَيْتُ مُحَمَّدًا (Aku melihat Muhammad)

      • Kata “مُحَمَّدًا” dalam kondisi Nashab (Objek), tandanya fathah tanwin yang terlihat jelas (ـً).

    • مَرَرْتُ بِمُحَمَّدٍ (Aku melewati Muhammad)

      • Kata “مُحَمَّدٍ” dalam kondisi Jar (setelah huruf Jar), tandanya kasrah tanwin yang terlihat jelas (ـٍ).

  • Untuk Fi’il Mudhari’:

    • يَكْتُبُ (Dia sedang menulis)

      • Kata “يَكْتُبُ” dalam kondisi Rafa’, tandanya dhammah yang terlihat jelas (ـُ).

    • لَنْ يَكْتُبَ (Dia tidak akan menulis)

      • Kata “يَكْتُبَ” dalam kondisi Nashab (setelah Harf Nashab “لَنْ“), tandanya fathah yang terlihat jelas (ـَ).

    • لَمْ يَكْتُبْ (Dia belum menulis)

      • Kata “يَكْتُبْ” dalam kondisi Jazm (setelah Harf Jazm “لَمْ“), tandanya sukun yang terlihat jelas (ـْ).

2. I‘rab Taqdiri (الإعراب التقديري)

I’rab Taqdiri adalah I’rab di mana tanda perubahan harakat di akhir kata tidak terlihat (tersembunyi) karena adanya penghalang tertentu. Meskipun tidak terlihat, harakat tersebut secara gramatikal diasumsikan ada.

Jenis-Jenis I‘rab Taqdiri

Ada tiga alasan utama mengapa I’rab bisa menjadi Taqdiri.

1. Ta‘adzur (التعذر): Mustahil untuk Mengucapkan Harakat.

    • Ini terjadi pada kata-kata yang diakhiri dengan Alif Lazimah (ألف لازمة), yaitu huruf alif (ا atau ى) yang merupakan bagian asli dari kata dan tidak bisa dipisah.
    • Harakat (dhammah, fathah, kasrah) tidak dapat muncul di atas alif karena sulit atau mustahil mengucapkannya.
    • Isim yang mengalami ini disebut Isim Maqshur.
    • Contoh:
      • جَاءَ الْفَتَى (Pemuda itu telah datang)
        • Kata “الْفَتَى” seharusnya Rafa’ (Fa’il), tetapi dhammahnya tersembunyi (تقديرا) di atas alif karena Ta‘adzur.
      • رَأَيْتُ الْفَتَى (Aku melihat pemuda itu)
        • Kata “الْفَتَى” seharusnya Nashab (Maf’ul Bih), tetapi fathahnya tersembunyi (تقديرا) di atas alif karena Ta‘adzur.
      • مَرَرْتُ بِالْفَتَى (Aku melewati pemuda itu)
        • Kata “الْفَتَى” seharusnya Jar (setelah huruf Jar “بِـ“), tetapi kasrahnya tersembunyi (تقديرا) di atas alif karena Ta‘adzur.

2. Tsiqal (الثقل): Berat untuk Mengucapkan Harakat.

    • Ini terjadi pada kata-kata yang diakhiri dengan Wawu (و) atau Ya’ (ي).
    • Harakat dhammah dan kasrah bisa diucapkan di atas wawu atau ya’, namun terasa berat dan tidak fasih. Oleh karena itu, harakat tersebut disembunyikan.
    • Isim yang mengalami ini disebut Isim Manqus. Fi’il Mudhari’ yang diakhiri wawu atau ya’ juga mengalami ini.
    • Contoh:
      • جَاءَ الْقَاضِي (Hakim itu telah datang)
        • Kata “الْقَاضِي” seharusnya Rafa’ (Fa’il), tetapi dhammahnya tersembunyi (تقديرا) di atas ya’ karena Tsiqal.
      • مَرَرْتُ بِالْقَاضِي (Aku melewati hakim itu)
      • Kata “الْقَاضِي” seharusnya Jar (setelah huruf Jar “بِـ“), tetapi kasrahnya tersembunyi (تقديرا) di atas ya’ karena Tsiqal.
      • يَدْعُو (Dia sedang berdoa)
      • Kata “يَدْعُو” seharusnya Rafa’, tetapi dhammahnya tersembunyi (تقديرا) di atas wawu karena Tsiqal.
      • يَرْمِي (Dia sedang melempar)
      • Kata “يَرْمِي” seharusnya Rafa’, tetapi dhammahnya tersembunyi (تقديرا) di atas ya’ karena Tsiqal.
    • Penting: Harakat fathah pada Isim Manqus dan Fi’il Mudhari’ yang diakhiri wawu/ya’ biasanya lafzhi (terlihat jelas) karena fathah itu ringan diucapkan di atas wawu dan ya’.
      • رَأَيْتُ الْقَاضِيَ (Aku melihat hakim itu) – Fathah pada “الْقَاضِيَterlihat jelas.
      • لَنْ يَدْعُوَ (Dia tidak akan berdoa) – Fathah pada “يَدْعُوَterlihat jelas.

3. Munasabah (المناسبة): Harakat Tidak Terlihat Karena Disesuaikan dengan Ya’ Mutakallim (Ya’ Kepunyaan ‘Saya’).

    • Ini terjadi pada isim yang bersambung dengan Ya’ Mutakallim (ي), yang berarti “milikku” atau “ku”.
    • Sebelum Ya’ Mutakallim, huruf akhir isim tersebut selalu berharakat kasrah agar sesuai (munasabah) dengan Ya’. Karena itu, harakat I’rab yang seharusnya muncul menjadi tersembunyi.
    • Contoh:
      • هَذَا كِتَابِيْ (Ini adalah bukuku)
        • Kata “كِتَابِيْ” seharusnya Rafa’ (Khabar), tetapi dhammahnya tersembunyi (تقديرا) karena adanya kasrah yang wajib untuk Munasabah dengan ya’ mutakallim.
      • قَرَأْتُ كِتَابِيْ (Aku membaca bukuku)
        • Kata “كِتَابِيْ” seharusnya Nashab (Maf’ul Bih), tetapi fathahnya tersembunyi (تقديرا) karena adanya kasrah yang wajib untuk Munasabah dengan ya’ mutakallim.
      • نَظَرْتُ فِي كِتَابِيْ (Aku melihat di bukuku)
        • Kata “كِتَابِيْ” seharusnya Jar (setelah huruf Jar “فِي“), tetapi kasrahnya tersembunyi (تقديرا) karena adanya kasrah yang wajib untuk Munasabah dengan ya’ mutakallim (dan kasrah ini bertepatan dengan kasrah I’rab aslinya).

Isim Maqshur dan Manqus

Kedua jenis isim ini sangat erat kaitannya dengan I’rab Taqdiri Ta’adzur dan Tsiqal.

Isim Maqshur (اِسْمٌ مَقْصُورٌ)

    • Definisi: Isim yang diakhiri dengan Alif Lazimah (الف لازمة) yang sebelumnya berharakat fathah. Alif ini bisa ditulis sebagai ا (alif lurus) atau ى (alif bengkok/alif maqshurah), namun keduanya dibaca “a” panjang.
    • Contoh: الْفَتَى (pemuda), الْعَصَا (tongkat), الْهُدَى (petunjuk), مُوسَى (Musa), عِيسَى (Isa).
    • I’rab pada Isim Maqshur:
      • Seluruh kondisi I’rab (Rafa’, Nashab, Jar) pada Isim Maqshur adalah Taqdiri (tersembunyi) karena Ta’adzur (kemustahilan mengucapkan harakat). Harakatnya tidak akan pernah terlihat.
      • Rafa’ dengan dhammah taqdiri.
      • Nashab dengan fathah taqdiri.
      • Jar dengan kasrah taqdiri.

Isim Manqus (اِسْمٌ مَنْقُوصٌ)

    • Definisi: Isim yang diakhiri dengan Ya’ Lazimah (ياء لازمة) yang sebelumnya berharakat kasrah.
    • Contoh: الْقَاضِي (hakim), الدَّاعِي (penyeru), الرَّاعِي (pengembala), الْمُهْتَدِي (orang yang mendapat petunjuk).
    • I’rab pada Isim Manqus:
      • Kondisi Rafa’ dan Jar pada Isim Manqus adalah Taqdiri (tersembunyi) karena Tsiqal (berat untuk mengucapkan harakat).
        • Rafa’ dengan dhammah taqdiri.
        • Jar dengan kasrah taqdiri.
      • Kondisi Nashab pada Isim Manqus adalah Lafzhi (terlihat jelas) dengan fathah, karena fathah ringan di atas ya’.
        • Nashab dengan fathah lafzhi.

Contoh-contoh I’rab

Mari kita lihat beberapa contoh I’rab pada kata dalam kalimat:

  1. قَامَ الطَّالِبُ (Siswa itu telah berdiri)
    • Kata الطَّالِبُ I’rabnya Rafa’ (sebagai Fa’il).
    • Tanda I’rab: Dhammah lafzhi yang terlihat jelas.
  2. قَرَأْتُ الْكِتَابَ (Aku membaca buku itu)
    • Kata الْكِتَابَ I’rabnya Nashab (sebagai Maf’ul Bih).
    • Tanda I’rab: Fathah lafzhi yang terlihat jelas.
  3. جَلَسْتُ عَلَى الْكُرْسِيِّ (Aku duduk di atas kursi itu)
    • Kata الْكُرْسِيِّ I’rabnya Jar (setelah Harf Jar “عَلَى“).
    • Tanda I’rab: Kasrah lafzhi yang terlihat jelas.
  4. جَاءَ مُوسَى (Musa telah datang)
    • Kata مُوسَى I’rab nya Rafa’ (sebagai Fa’il).
    • Tanda I’rab: Dhammah taqdiri karena Ta’adzur (isim maqshur).
  5. رَأَيْتُ الْقَاضِيَ (Aku melihat hakim itu)
    • Kata الْقَاضِيَ I’rabnya: Nashab (sebagai Maf’ul Bih).
    • Tanda I’rab: Fathah lafzhi yang terlihat jelas (isim manqush, fathah ringan).
  6. هَذَا بَيْتِيْ (Ini rumahku)
    • Kata بَيْتِيْ I’rabnya: Rafa’ (sebagai Khabar).
    • Tanda I’rab: Dhammah taqdiri karena Munasabah dengan ya’ mutakallim.

Contoh dari Ayat-ayat Al-Qur’an

Mari kita identifikasi I’rab pada beberapa kata dalam ayat-ayat Al-Qur’an:

1. QS. Al-Fatihah (1) 2:

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

    • الْحَمْدُ: Isim. I’rabnya Rafa’ (sebagai Mubtada’). Tandanya dhammah lafzhi.
    • اللَّهِ: Isim. I’rabnya Jar (setelah huruf Jar “لِـ“). Tandanya kasrah lafzhi.
    • رَبِّ: Isim. I’rabnya Jar (sebagai sifat/badal dari Allah). Tandanya kasrah lafzhi.
    • الْعَالَمِينَ: Isim. I’rabnya Jar (sebagai Mudhaf Ilaih). Tandanya ya’ lafzhi.

2. QS. Al-A’la (87) 14:

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ تَزَكّٰىۙ

Sungguh, beruntung orang yang menyucikan diri (dari kekafiran).

    • أَفْلَحَ: Fi’il Madhi, tidak mu’rab (mabni).
    • تَزَكَّىٰ: Fi’il Mudhari’. I’rabnya Rafa’. Tandanya dhammah taqdiri karena Ta’adzur (berakhir alif lazimah).

3. QS. Al-Ma’idah (5) 42:

سَمّٰعُوْنَ لِلْكَذِبِ اَكّٰلُوْنَ لِلسُّحْتِۗ فَاِنْ جَاۤءُوْكَ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ اَوْ اَعْرِضْ عَنْهُمْ

Mereka (orang-orang Yahudi itu) sangat suka mendengar berita bohong lagi banyak memakan makanan yang haram. Maka, jika mereka datang kepadamu (Nabi Muhammad untuk meminta putusan), berilah putusan di antara mereka atau berpalinglah dari mereka.

    • لِلْكَذِبِ: Isim. I’rabnya Jar (setelah huruf Jar “لِـ“). Tandanya kasrah lafzhi.
    • لِلسُّحْتِ: Isim. I’rabnya Jar (setelah huruf Jar “لِـ“). Tandanya kasrah lafzhi.
    • جَاءُوكَ: Fi’il Madhi, tidak mu’rab (mabni).
    • فَاحْكُمْ: Fi’il Amr, tidak mu’rab (mabni).
    • بَيْنَهُمْ: Isim. I’rabnya Nashab (sebagai Zharf Makan). Tandanya fathah lafzhi.
    • أَعْرِضْ: Fi’il Amr, tidak mu’rab (mabni).
    • عَنْهُمْ: Harf (عَنْ) dan Isim (ضمير). Isimnya (هُمْ) mabni.

4. QS. Al-Kahf (18) 87:

قَالَ اَمَّا مَنْ ظَلَمَ فَسَوْفَ نُعَذِّبُهٗ ثُمَّ يُرَدُّ اِلٰى رَبِّهٖ فَيُعَذِّبُهٗ عَذَابًا نُّكْرًا

Dia (Dzulkarnain) berkata, “Adapun orang yang berbuat zalim, maka kami akan menyiksanya dengan siksaan yang keras, kemudian dia akan dikembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan akan menyiksanya dengan siksaan yang sangat pedih.”

    • ظَلَمَ: Fi’il Madhi, tidak mu’rab (mabni).
    • نُعَذِّبُهُ: Fi’il Mudhari’. I’rabnya Rafa’. Tandanya dhammah lafzhi.
    • يُرَدُّ: Fi’il Mudhari’. I’rabnya Rafa’. Tandanya dhammah lafzhi.
    • رَبِّهِ: Isim. I’rabnya Jar (setelah huruf Jar “إِلَى“). Tandanya kasrah lafzhi.
    • يُعَذِّبُهُ: Fi’il Mudhari’. I’rabnya Rafa’. Tandanya dhammah lafzhi.
    • عَذَابًا: Isim. I’rabnya Nashab (sebagai Maf’ul Muthlaq). Tandanya fathah tanwin lafzhi.

Ringkasan Materi

    • I’rab adalah perubahan akhir kata (harakat atau huruf) yang terjadi karena perbedaan ‘Amil (faktor) yang masuk padanya, baik secara jelas (lafzhi) atau secara perkiraan (taqdiri).
    • Yang mengalami I’rab hanyalah Isim-isim Mu’rab dan Fi’il Mudhari’. Harf, Fi’il Madhi, dan Fi’il Amr adalah Mabni (tetap).
    • Macam-macam Perubahan I’rab:
      • I’rab Lafzhi: Tanda I’rab terlihat jelas.
      • I’rab Taqdiri: Tanda I’rab tersembunyi karena:
        • Ta‘adzur: Mustahil mengucapkan harakat (pada Isim Maqshur).
        • Tsiqal: Berat mengucapkan harakat (pada Isim Manqus untuk rafa’ dan jar, serta Fi’il Mudhari’ berakhiran wawu/ya’ untuk rafa’).
        • Munasabah: Ada kasrah wajib karena bersambung dengan Ya’ Mutakallim.

Soal-soal Latihan

Tentukan I’rab (Rafa’, Nashab, atau Jar/Jazm) pada kata yang diwarnai, sebutkan jenis I’rabnya (Lafzhi atau Taqdiri), dan jelaskan alasannya.

  1. هَذَا الْقَاضِي الْعَادِلُ
    • Kata: الْقَاضِي (Al-Qaadi) – “Hakim itu”
    • I’rabnya:
    • Jenis I’rab:
    • Alasan:
  2. لَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
    • Kata: يَهْدِيَ (Yahdiya) – “Dia akan memberi petunjuk”
    • I’rabnya:
    • Jenis I’rab:
    • Alasan:
  3. جَاءَ فَتَايَ الْيَوْمَ
    • Kata: فَتَايَ (Fataaya) – “Pemudaku/anak mudaku”
    • I’rabnya:
    • Jenis I’rab:
    • Alasan:
  4. لَمْ يُصَلِّ عَلِيٌّ
    • Kata: يُصَلِّ (Yusalli) – “Dia shalat”
    • I’rabnya:
    • Jenis I’rab:
    • Alasan:
  5. قَرَأَ مُحَمَّدٌ الْقُرْآنَ
    • Kata: مُحَمَّدٌ (Muhammadun) – “Muhammad”
    • I’rabnya:
    • Jenis I’rab:
    • Alasan:

Jawaban dan Pembahasan Soal-soal

Mari kita periksa jawaban Anda:

  1. هَذَا الْقَاضِي الْعَادِلُ
    • Kata: الْقَاضِي (Al-Qaadi) – “Hakim itu”
    • I’rabnya: Rafa’ (sebagai Badal dari Isim Isyarahهذا‘).
    • Jenis I’rab: Taqdiri.
    • Alasan: Dhammahnya tersembunyi di atas ya’ karena Tsiqal (berat untuk mengucapkan dhammah pada ya’ Isim Manqus).
  2. لَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
    • Kata: يَهْدِيَ (Yahdiya) – “Dia akan memberi petunjuk”
    • I’rabnya: Nashab (setelah Harf Nashab ‘لَنْ‘).
    • Jenis I’rab: Lafzhi.
    • Alasan: Fathah pada ya’ Fi’il Mudhari’ terlihat jelas karena ringan diucapkan (bukan taqdiri).
  3. جَاءَ فَتَايَ الْيَوْمَ
    • Kata: فَتَايَ (Fataaya) – “Pemudaku/anak mudaku”
    • I’rabnya: Rafa’ (sebagai Fa’il).
    • Jenis I’rab: Taqdiri.
    • Alasan: Dhammahnya tersembunyi di atas alif Isim Maqshur karena Munasabah dengan ya’ mutakallim (juga bisa karena ta’adzur pada alif, tapi konteks ya’ mutakallim lebih spesifik).
  4. لَمْ يُصَلِّ عَلِيٌّ
    • Kata: يُصَلِّ (Yusalli) – “Dia shalat”
    • I’rabnya: Jazm (setelah Harf Jazm ‘لَمْ‘).
    • Jenis I’rab: Lafzhi.
    • Alasan: Tandanya adalah pembuangan huruf يا asli dari akhir kata (lafzhi), karena fi’il mudhari’ ini termasuk Fi’il Mu’tal Akhir yang ketika dijazmkan, huruf illatnya dibuang.
  5. قَرَأَ مُحَمَّدٌ الْقُرْآنَ
    • Kata: مُحَمَّدٌ (Muhammadun) – “Muhammad”
    • I’rabnya: Rafa’ (sebagai Fa’il).
    • Jenis I’rab: Lafzhi.
    • Alasan: Dhammah tanwinnya terlihat jelas di akhir kata.

Penutup

Alhamdulillah, kita telah menuntaskan pembahasan mengenai I’rab, konsep fundamental dalam Ilmu Nahwu. Memahami perubahan akhir kata, baik secara lafzhi maupun taqdiri, adalah pondasi yang sangat kuat untuk menguasai Bahasa Arab. Anda kini telah memahami mengapa harakat akhir sebuah kata bisa berubah dan kapan perubahan itu terlihat atau tersembunyi.

Pada artikel berikutnya, insyaallah kita akan membahas lebih rinci tentang Bina dan Mabni. Ini adalah materi yang akan semakin mempertajam kemampuan Anda dalam menganalisis kalimat Bahasa Arab.

Terus semangat dan istiqamah dalam belajar! Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan dan pemahaman bagi kita semua.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.