Pada Serial Nahwu Al-Ajurumiyyah sebelumnya, kita telah mempelajari Dammah sebagai tanda rafa’ yang muncul pada Isim Mufrad, Jama’ Taksir, dan Jama’ Muannats Salim. Kini, kita akan melanjutkan pembahasan tanda rafa’ dammah pada tempat keempat dan terakhir, yaitu Fi’il Mudhari’ (الْفِعْلُ الْمُضَارِعُ).

Mari kita ingat kembali penjelasan Imam Ibnu Ajurrum رحمه الله mengenai tanda-tanda rafa’ dan tempat-tempat dammah menjadi tanda rafa’:

لِلرَّفْعِ أَرْبَعُ عَلَامَاتٍ: اَلضَّمَّةُ، وَالْوَاوُ، وَالْأَلِفُ، وَالنُّونُ.

“Untuk rafa’ ada empat tanda: Dammah, Wawu, Alif, dan Nun.”

فَأَمَّا اَلضَّمَّةُ: فَتَكُونُ عَلَامَةً لِلرَّفْعِ فِي أَرْبَعَةِ مَوَاضِعَ: فِي اَلِاسْمِ اَلْمُفْرَدِ، وَجَمْعِ اَلتَّكْسِيرِ، وَجَمْعِ اَلْمُؤَنَّثِ اَلسَّالِمِ، وَالْفِعْلِ اَلْمُضَارِعِ اَلَّذِي لَمْ يَتَّصِلْ بِآخِرِهِ شَيْءٌ.

“Adapun Dammah, maka ia menjadi tanda rafa’ pada empat tempat: pada Isim Mufrad, Jama’ Taksir, Jama’ Muannats Salim, dan Fi’il Mudhari’ Shahih Akhir yang tidak bersambung dengan apapun di akhirnya.

Pada Serial Nahwu Al-Ajurumiyyah ini, kita akan fokus secara mendalam pada dammah sebagai tanda rafa’ khusus pada Fi’il Mudhari’ yang tidak bersambung dengan apapun di akhirnya.

Fi’il Mudhari’ (الْفِعْلُ الْمُضَارِعُ)

Fi’il Mudhari’ (الْفِعْلُ الْمُضَارِعُ) adalah kata kerja yang menunjukkan terjadinya suatu perbuatan atau keadaan yang sedang berlangsung (masa sekarang) atau akan terjadi (masa depan). Fi’il mudhari’ selalu diawali dengan salah satu dari empat huruf mudhara’ah (أَحْرُفُ الْمُضَارَعَةِ), yaitu:

  • أَ (alif) untuk orang pertama tunggal (saya)

  • نَ (nun) untuk orang pertama jama’ (kami)

  • يَ (ya’) untuk orang ketiga (dia laki-laki/mereka)

  • تَ (ta’) untuk orang kedua (kamu) atau orang ketiga perempuan (dia perempuan/mereka perempuan)

Contoh:

Berikut adalah contoh fi’il mudhari’:

  1. يَكْتُبُ : Dia (laki-laki) sedang/akan menulis.
  2. تَكْتُبُ : Dia (perempuan) sedang/akan menulis / Kamu (laki-laki) sedang/akan menulis.
  3. أَكْتُبُ : Saya sedang/akan menulis.
  4. نَكْتُبُ : Kami sedang/akan menulis.
  5. يَذْهَبُ : Dia (laki-laki) sedang/akan pergi.
  6. تَذْهَبُ : Dia (perempuan) sedang/akan pergi / Kamu (laki-laki) sedang/akan pergi.
  7. أَذْهَبُ : Saya sedang/akan pergi.
  8. نَذْهَبُ : Kami sedang/akan pergi.
  9. يَجْلِسُ : Dia (laki-laki) sedang/akan duduk.
  10. تَجْلِسُ : Dia (perempuan) sedang/akan duduk / Kamu (laki-laki) sedang/akan duduk.

Tanda Rafa’ Dammah pada Fi’il Mudhari’

Ketika fi’il mudhari’ yang “tidak bersambung dengan apapun di akhirnya” tidak didahului oleh huruf nashab (yang menashabkan fi’il mudhari’) dan tidak pula didahului oleh huruf jazm (yang menjazmkan fi’il mudhari’), maka ia berada dalam keadaan rafa’ dengan tanda dammah yang tampak (lafzhi) atau kadang dammah muqaddarah (taqdiri) jika huruf akhirnya adalah huruf illat (ا, و, ي).

Syarat penting agar fi’il mudhari’ di-rafa’ dengan dammah adalah fi’il mudhari’ yang “tidak bersambung dengan apapun di akhirnya”, yaitu:

  1. Tidak bersambung dengan Alif Tatsniyah (أَلِفُ التَّثْنِيَةِ), yaitu dhamir untuk dua orang. Jika bersambung, ia akan menjadi af’alul khamsah.
  2. Tidak bersambung dengan Wawu Al-Jama’ah (وَاوُ الْجَمَاعَةِ), yaitu dhamir untuk banyak orang laki-laki. Jika bersambung, ia akan menjadi af’alul khamsah.
  3. Tidak bersambung dengan Ya’ Al-Mukhatabah (يَاءُ الْمُخَاطَبَةِ), yaitu dhamir untuk kamu perempuan. Jika bersambung, ia akan menjadi af’alul khamsah.
  4. Tidak bersambung dengan Nun An-Niswa (نُونُ النِّسْوَةِ), yaitu nun untuk jama’ perempuan. Jika bersambung, fi’il mudhari’ akan menjadi mabniy ‘alas-sukun.
  5. Tidak bersambung dengan Nun At-Taukid (نُونُ التَّوْكِيدِ), yaitu nun penegas. Jika bersambung, fi’il mudhari’ akan menjadi mabniy ‘alal-fath.

Singkatnya, fi’il mudhari’ yang di-rafa’ dengan dammah adalah fi’il mudhari’ yang menunjukkan makna tunggal (dia laki-laki/perempuan, saya, kami, kamu laki-laki) dan tidak bersambung dengan nun perempuan atau nun penegas.

Contoh:

  1. يَجْلِسُ الطَّالِبُ. (Siswa itu sedang duduk.)
    • Penjelasan I’rab: Kata يَجْلِسُ adalah fi’il mudhari’ shahih akhir (huruf akhirnya س), tidak didahului oleh nashib atau jazim, dan tidak bersambung dengan apapun di akhirnya. Ia marfu’ dengan tanda dammah yang tampak.
  2. تَقْرَأُ الْبِنْتُ الْكِتَابَ. (Anak perempuan itu sedang membaca buku.)
    • Penjelasan I’rab: Kata تَقْرَأُ adalah fi’il mudhari’ shahih akhir (huruf akhirnya أ), tidak didahului oleh nashib atau jazim, dan tidak bersambung dengan apapun di akhirnya. Ia marfu’ dengan tanda dammah yang tampak.
  3. أَذْهَبُ إِلَى الْمَدْرَسَةِ. (Aku sedang pergi ke sekolah.)
    • Penjelasan I’rab: Kata أَذْهَبُ adalah fi’il mudhari’ shahih akhir (huruf akhirnya ب), tidak didahului oleh nashib atau jazim, dan tidak bersambung dengan apapun di akhirnya. Ia marfu’ dengan tanda dammah yang tampak.
  4. نَكْتُبُ الرِّسَالَةَ. (Kami sedang menulis surat.)
    • Penjelasan I’rab: Kata نَكْتُبُ adalah fi’il mudhari’ shahih akhir (huruf akhirnya ب), tidak didahului oleh nashib atau jazim, dan tidak bersambung dengan apapun di akhirnya. Ia marfu’ dengan tanda dammah yang tampak.
  5. يَدْعُو الْمُسْلِمُ رَبَّهُ. (Seorang muslim berdoa kepada Tuhannya.)
    • Penjelasan I’rab: Kata يَدْعُو adalah fi’il mudhari’ mu’tal akhir dengan wawu, tidak didahului oleh nashib atau jazim, dan tidak bersambung dengan apapun di akhirnya. Ia marfu’ dengan tanda dammah muqaddarah karena tsiqal (kesulitan mengucapkan dammah pada wawu).

Contoh dari Al-Qur’an:

يُثَبِّتُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِۚ

Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. (QS. Ibrahim: 27)

  • Penjelasan I’rab: Kata يُثَبِّتُ adalah fi’il mudhari’ shahih akhir (huruf akhirnya ت), tidak didahului oleh nashib atau jazim, dan tidak bersambung dengan apapun di akhirnya. Ia marfu’ dengan tanda dammah yang tampak.

وَاللّٰهُ يَدْعُوْآ اِلٰى دَارِ السَّلٰمِ ۚوَيَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ

Allah menyeru (manusia) ke Dārussalām (surga) dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki menuju jalan yang lurus (berdasarkan kesiapannya untuk menerima petunjuk). (QS. Yunus: 25)

  • Penjelasan I’rab: Kata يَدْعُو adalah fi’il mudhari’ mu’tal akhir dengan wawu, tidak didahului oleh nashib atau jazim, dan tidak bersambung dengan apapun di akhirnya. Ia marfu’ dengan tanda dammah muqaddarah karena tsiqal (kesulitan mengucapkan dammah pada wawu). Ini adalah contoh dammah taqdiri pada fi’il mudhari’.

اَمَّنْ يُّجِيْبُ الْمُضْطَرَّ اِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوْۤءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاۤءَ الْاَرْضِۗ

Apakah (yang kamu sekutukan itu lebih baik ataukah) Zat yang mengabulkan (doa) orang yang berada dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, menghilangkan kesusahan, dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? (QS. An-Naml: 62)

  • Penjelasan I’rab: Kata يَكْشِفُ dan يَجْعَلُ adalah fi’il mudhari’ shahih akhir (huruf akhirnya ف dan ل), tidak didahului oleh nashib atau jazim, dan tidak bersambung dengan apapun di akhirnya. Keduanya marfu’ dengan tanda dammah yang tampak.

قَدْ يَعْلَمُ اللّٰهُ الْمُعَوِّقِيْنَ مِنْكُمْ وَالْقَاۤىِٕلِيْنَ لِاِخْوَانِهِمْ هَلُمَّ اِلَيْنَا ۚوَلَا يَأْتُوْنَ الْبَأْسَ اِلَّا قَلِيْلًاۙ

Sungguh, Allah mengetahui para penghalang (untuk berperang) dari (golongan)-mu dan orang yang berkata kepada saudara-saudaranya, “Marilah bersama kami.” Mereka tidak datang berperang, kecuali hanya sebentar. (QS.h Al-Ahzab: 18)

Penjelasan I’rab: Kata يَعْلَمُ adalah fi’il mudhari’ shahih akhir (huruf akhirnya م), tidak didahului oleh nashib atau jazim, dan tidak bersambung dengan apapun di akhirnya. Ia marfu’ dengan tanda dammah yang tampak.

Ringkasan

  • Fi’il Mudhari’ adalah kata kerja yang menunjukkan masa sekarang atau masa depan.

  • Syarat agar fi’il mudhari’ di-rafa’ dengan dammah adalah ia harus Fi’il Mudhari’ Shahih Akhir (huruf akhirnya bukan ا, و, ي) dan tidak bersambung dengan apapun di akhirnya (tidak bersambung dengan alif tatsniyah, wawu jama’ah, ya’ mukhatabah, nun an-niswa, atau nun at-taukid).

  • Dammah adalah tanda asli rafa’.

  • Dammah menjadi tanda rafa’ pada fi’il mudhari’ tersebut ketika ia tidak didahului oleh huruf nashab atau huruf jazm.

  • Tanda dammah pada fi’il mudhari’ bisa tampak (lafzhi) jika shahih akhir, atau diperkirakan (taqdiri) jika mu’tal akhir dengan wawu atau ya’.

Soal-soal

  • Sebutkan empat tempat di mana dammah menjadi tanda rafa’.

  • Jelaskan apa yang dimaksud dengan Fi’il Mudhari’.

  • Jelaskan makna frasa الَّذِي لَمْ يَتَّصِلْ بِآخِرِهِ شَيْءٌ pada fi’il mudhari’.

  • Berikan 3 contoh fi’il mudhari’ yang di-rafa’ dengan dammah, beserta artinya.

  • Identifikasi dan jelaskan i’rab kata يَسْجُدُ dalam ayat اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ يَسْجُدُ لَهٗ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَمَنْ فِى الْاَرْضِ (QS. Al-Hajj: 18).

  • Apakah fi’il mudhari’ yang berakhiran wawu atau ya’ dapat di-rafa’ dengan dammah lafzhi? Jelaskan.

Jawaban

  1. Sebutkan empat tempat di mana dammah menjadi tanda rafa’.
    • Jawaban: Isim Mufrad, Jama’ Taksir, Jama’ Muannats Salim, dan Fi’il Mudhari’ yang tidak bersambung dengan apapun di akhirnya.
  2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Fi’il Mudhari’.
    • Jawaban: Fi’il Mudhari’ adalah kata kerja yang menunjukkan terjadinya suatu perbuatan atau keadaan yang sedang berlangsung (masa sekarang) atau akan terjadi (masa depan), dan selalu diawali dengan salah satu dari huruf mudhara’ah (أَ، نَ، يَ، تَ).
  3. Jelaskan makna frasa “الَّذِي لَمْ يَتَّصِلْ بِآخِرِهِ شَيْءٌ” pada fi’il mudhari’.
    • Jawaban: Frasa ini berarti fi’il mudhari’ tersebut tidak bersambung dengan Alif Tatsniyah, Wawu Al-Jama’ah, Ya’ Al-Mukhatabah (yang akan membuatnya menjadi af’alul khamsah), Nun An-Niswa, atau Nun At-Taukid.
  4. Berikan 3 contoh fi’il mudhari’ yang di-rafa’ dengan dammah, beserta artinya.
    • Jawaban:
      • يَشْرَبُ (Dia sedang/akan minum).
      • تَلْعَبُ (Dia perempuan sedang/akan bermain).
      • أَنْصُرُ (Saya sedang/akan menolong). (Contoh lain juga diterima)
  5. Identifikasi dan jelaskan i’rab kata يَسْجُدُ dalam ayat اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ يَسْجُدُ لَهٗ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَمَنْ فِى الْاَرْضِ (QS. Al-Hajj: 18).
    • Jawaban: Kata يَسْجُدُ adalah fi’il mudhari’ shahih akhir (huruf akhirnya د), tidak didahului oleh nashib atau jazim, dan tidak bersambung dengan apapun di akhirnya. Ia marfu’ dengan tanda dammah yang tampak.
  6. Apakah fi’il mudhari’ yang berakhiran wawu atau ya’ dapat di-rafa’ dengan dammah lafzhi? Jelaskan.
    • Jawaban: Tidak. Fi’il mudhari’ yang berakhiran wawu atau ya’ (mu’tal akhir) di-rafa’ dengan dammah muqaddarah (diperkirakan) karena tsiqal (kesulitan dalam mengucapkan dammah pada huruf illat tersebut). Dammahnya tidak tampak secara lafzhi.

Penutup

Alhamdulillah, pada Serial Nahwu Al-Ajurumiyyah ini kita telah menyelesaikan pembahasan mendalam tentang Dammah sebagai tanda rafa’ pada keempat jenis kata yang mengalaminya: Isim Mufrad, Jama’ Taksir, Jama’ Muannats Salim, dan Fi’il Mudhari’ yang tidak bersambung dengan apapun di akhirnya. Pemahaman yang kuat tentang tanda asli rafa’ ini adalah fondasi yang sangat penting dalam perjalanan kita mempelajari ilmu nahwu.

Insya Allah, pada Serial Nahwu Al-Ajurumiyyah berikutnya, kita akan membahas tanda-tanda rafa’ pengganti, yaitu Wawu, Alif, dan Nun. Tetaplah bersemangat dan teruslah mendalami ilmu nahwu, semoga Allah SWT senantiasa memberikan kemudahan dan keberkahan.