Pada Serial Nahwu Al-Ajurumiyyah sebelumnya, kita telah membahas Dammah sebagai tanda asli rafa’ yang muncul pada Isim Mufrad, Jama’ Taksir, dan Jama’ Muannats Salim, serta Fi’il Mudhari’ Shahih Akhir yang tidak bersambung dengan apapun di akhirnya. Kita juga telah mempelajari Wawu sebagai tanda pengganti rafa’ pada Jama’ Mudzakkar Salim dan Al-Asma’ Al-Khamsah, serta Alif sebagai tanda pengganti rafa’ pada Isim Mutsanna.

Kini, kita akan melangkah ke tanda rafa’ terakhir, yaitu Nun (النون). Nun ini adalah tanda pengganti rafa’ yang khusus muncul pada jenis fi’il mudhari’ tertentu.

Mari kita ingat kembali penjelasan Imam Ibnu Ajurrum رحمه الله mengenai tanda-tanda rafa’ dan tempat Nun menjadi tanda rafa’:

لِلرَّفْعِ أَرْبَعُ عَلَامَاتٍ: اَلضَّمَّةُ، وَالْوَاوُ، وَالْأَلِفُ، وَالنُّونُ.

“Untuk rafa’ ada empat tanda: Dammah, Wawu, Alif, dan Nun.”

وَأَمَّا اَلنُّونُ: فَتَكُونُ عَلَامَةً لِلرَّفْعِ فِي اَلْفِعْلِ اَلْمُضَارِعِ، إِذَا اِتَّصَلَ بِهِ ضَمِيرُ تَثْنِيَةٍ، أَوْ ضَمِيرُ جَمْعٍ، أَوْ ضَمِيرُ اَلْمُؤَنَّثَةِ اَلْمُخَاطَبَةِ.

“Adapun Nun, maka ia menjadi tanda rafa’ pada Fi’il Mudhari’, jika bersambung dengannya dhamir tatsniyah, atau dhamir jama’, atau dhamir muannats mukhatabah.”

Pada Serial Nahwu Al-Ajurumiyyah kali ini, kita akan fokus secara mendalam pada Nun sebagai tanda rafa’ khusus pada Fi’il Mudhari’ yang bersambung dengan dhamir-dhamir tertentu.

Fi’il Mudhari’

Fi’il Mudhari’ (الْفِعْلُ الْمُضَارِعُ) adalah kata kerja yang menunjukkan terjadinya suatu perbuatan atau keadaan yang sedang berlangsung (masa sekarang) atau akan terjadi (masa depan). Fi’il mudhari’ selalu diawali dengan salah satu dari empat huruf mudhara’ah (أَحْرُفُ الْمُضَارَعَةِ), yaitu:

  • أَ (alif) untuk orang pertama tunggal (saya)

  • نَ (nun) untuk orang pertama jamak (kami)

  • يَ (ya’) untuk orang ketiga (dia laki-laki/mereka)

  • تَ (ta’) untuk orang kedua (kamu) atau orang ketiga perempuan (dia perempuan/mereka perempuan)

Contoh Fi’il Mudhari’ (bentuk dasar):

  1. يَكْتُبُ : Dia (laki-laki) sedang/akan menulis.
  2. تَكْتُبُ : Dia (perempuan) sedang/akan menulis / Kamu (laki-laki) sedang/akan menulis.
  3. أَكْتُبُ : Saya sedang/akan menulis.
  4. نَكْتُبُ : Kami sedang/akan menulis.
  5. يَذْهَبُ : Dia (laki-laki) sedang/akan pergi.
  6. تَذْهَبُ : Dia (perempuan) sedang/akan pergi / Kamu (laki-laki) sedang/akan pergi.
  7. أَذْهَبُ : Saya sedang/akan pergi.
  8. نَذْهَبُ : Kami sedang/akan pergi.
  9. يَجْلِسُ : Dia (laki-laki) sedang/akan duduk.
  10. تَجْلِسُ : Dia (perempuan) sedang/akan duduk / Kamu (laki-laki) sedang/akan duduk.

Fi’il Mudhari’ yang Menerima Tanda Rafa’ Nun (الأَفْعَالُ الْخَمْسَةُ)

Nun menjadi tanda rafa’ khusus pada lima bentuk fi’il mudhari’ yang dikenal dengan sebutan Al-Af’al Al-Khamsah (الأَفْعَالُ الْخَمْسَةُ) atau “Fi’il-Fi’il yang Lima”. Kelima bentuk ini adalah fi’il mudhari’ yang bersambung dengan salah satu dari tiga jenis dhamir (kata ganti) berikut:

  1. Bersambung dengan Dhamir Tatsniyah (ضَمِيرُ تَثْنِيَةٍ / أَلِفُ الِاثْنَيْنِ): Yaitu huruf alif (ا) yang menunjukkan dua orang (laki-laki atau perempuan); dhamir أَنْتُمَا dan هُمَا. Ini menghasilkan dua bentuk:
    • يَفْعَلَانِ (Mereka berdua laki-laki sedang/akan melakukan)
    • تَفْعَلَانِ (Kalian berdua laki-laki/perempuan sedang/akan melakukan)
    • يَكْتُبَانِ : Mereka berdua (laki-laki) sedang/akan menulis.
    • تَذْهَبَانِ : Kalian berdua (laki-laki/perempuan) sedang/akan pergi.
    • يَجْلِسَانِ : Mereka berdua (laki-laki) sedang/akan duduk.
  2. Bersambung dengan Dhamir Jama’ (ضَمِيرُ جَمْعٍ / وَاوُ الْجَمَاعَةِ): Yaitu huruf wawu (و) yang menunjukkan banyak orang laki-laki (mereka atau kalian); dhamir أَنْتُمْ dan هُمْ. Ini menghasilkan dua bentuk:
    • يَفْعَلُونَ : Mereka (laki-laki) sedang/akan melakukan.
    • تَفْعَلُونَ : Kalian (laki-laki) sedang/akan melakukan.
    • يَكْتُبُونَ : Mereka (laki-laki) sedang/akan menulis.
    • تَذْهَبُونَ : Kalian (laki-laki) sedang/akan pergi.
    • يَجْلِسُونَ : Mereka (laki-laki) sedang/akan duduk.
  3. Bersambung dengan Dhamir Muannats Mukhatabah (ضَمِيرُ الْمُؤَنَّثَةِ الْمُخَاطَبَةِ / يَاءُ الْمُخَاطَبَةِ): Yaitu huruf ya’ (ي) yang menunjukkan satu orang perempuan yang diajak bicara (kamu perempuan); dhamir أَنْتِ. Ini menghasilkan satu bentuk:
    • تَفْعَلِينَ : Kamu (perempuan) sedang/akan melakukan.
    • تَكْتُبِينَ : Kamu (perempuan) sedang/akan menulis.
    • تَذْهَبِينَ : Kamu (perempuan) sedang/akan pergi.
    • تَجْلِسِينَ : Kamu (perempuan) sedang/akan duduk.

Tanda Rafa’ Nun pada Fi’il Mudhari’ Al-Af’al Al-Khamsah

Ketika Al-Af’al Al-Khamsah berada dalam keadaan rafa’ (yaitu, tidak didahului oleh huruf nashab atau huruf jazm), maka tanda rafa’-nya adalah tetapnya Nun (ثُبُوتُ النُّونِ) di akhirnya. Artinya, huruf nun tersebut tidak dibuang.

Contoh-contoh:

  1. الطَّالِبَانِ يَكْتُبَانِ الدَّرْسَ. (Dua siswa itu sedang menulis pelajaran.)
    • Penjelasan I’rab: Kata يَكْتُبَانِ adalah fi’il mudhari’ dari Al-Af’al Al-Khamsah (bersambung dengan alif tatsniyah). Ia tidak didahului nashib atau jazim. Oleh karena itu, ia marfu’ dengan tanda tetapnya nun.
  2. الْمُسْلِمُونَ يُصَلُّونَ فِي الْمَسْجِدِ. (Orang-orang muslim itu shalat di masjid.)
    • Penjelasan I’rab: Kata يُصَلُّونَ adalah fi’il mudhari’ dari Al-Af’al Al-Khamsah (bersambung dengan wawu jama’ah). Ia tidak didahului nashib atau jazim. Oleh karena itu, ia marfu’ dengan tanda tetapnya nun.
  3. أَنْتُمْ تَدْرُسُونَ بِجِدٍّ. (Kalian laki-laki belajar dengan sungguh-sungguh.)
    • Penjelasan I’rab: Kata تَدْرُسُونَ adalah fi’il mudhari’ dari Al-Af’al Al-Khamsah (bersambung dengan wawu jama’ah). Ia tidak didahului nashib atau jazim. Oleh karena itu, ia marfu’ dengan tanda tetapnya nun.
  4. أَنْتِ تَفْهَمِينَ الدَّرْسَ. (Kamu perempuan memahami pelajaran itu.)
    • Penjelasan I’rab: Kata تَفْهَمِينَ adalah fi’il mudhari’ dari Al-Af’al Al-Khamsah (bersambung dengan ya’ mukhatabah). Ia tidak didahului nashib atau jazim. Oleh karena itu, ia marfu’ dengan tanda tetapnya nun.
  5. الْبِنْتَانِ تَلْعَبَانِ فِي الْحَدِيقَةِ. (Dua anak perempuan itu sedang bermain di taman.)
    • Penjelasan I’rab: Kata تَلْعَبَانِ adalah fi’il mudhari’ dari Al-Af’al Al-Khamsah (bersambung dengan alif tatsniyah). Ia tidak didahului nashib atau jazim. Oleh karena itu, ia marfu’ dengan tanda tetapnya nun.

Contoh dari Al-Qur’an:

مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيٰنِۙ . بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَّا يَبْغِيٰنِۚ

Dia membiarkan dua laut (tawar dan asin) bertemu. Di antara keduanya ada pembatas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. (QS. Ar-Rahman: 19-20)

  • Penjelasan I’rab: Kata يَلْتَقِيَانِ dan يَبْغِيَانِ adalah fi’il mudhari’ dari Al-Af’al Al-Khamsah (bersambung dengan alif tatsniyah). Keduanya tidak didahului nashib atau jazim. Oleh karena itu, keduanya marfu’ dengan tanda tetapnya nun.

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)? (QS. Ar-Rahman: 16)

Penjelasan I’rab: Kata تُكَذِّبَانِ adalah fi’il mudhari’ dari Al-Af’al Al-Khamsah (bersambung dengan alif tatsniyah). Ia tidak didahului nashib atau jazim. Oleh karena itu, ia marfu’ dengan tanda tetapnya nun.

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللّٰهُ بِبَدْرٍ وَّاَنْتُمْ اَذِلَّةٌ ۚ فَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Sungguh, Allah benar-benar telah menolong kamu dalam Perang Badar, padahal kamu (pada saat itu) adalah orang-orang lemah. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah agar kamu bersyukur. (QS. Ali Imran: 123)

  • Penjelasan I’rab: Kata تَشْكُرُونَ adalah fi’il mudhari’ dari Al-Af’al Al-Khamsah (bersambung dengan wawu jama’ah). Ia tidak didahului nashib atau jazim (lam ta’lil yang menashabkan di sini tidak ada, لَعَلَّ adalah huruf yang menashabkan isim dan merafa’kan khabar). Oleh karena itu, ia marfu’ dengan tanda tetapnya nun.

قَالُوْا نَحْنُ اُولُوْا قُوَّةٍ وَّاُولُوْا بَأْسٍ شَدِيْدٍ ەۙ وَّالْاَمْرُ اِلَيْكِ فَانْظُرِيْ مَاذَا تَأْمُرِيْنَ

Mereka menjawab, “Kita memiliki kekuatan dan ketangkasan yang luar biasa (untuk berperang), tetapi keputusan berada di tanganmu. Maka, pertimbangkanlah apa yang akan engkau perintahkan.” (QS. An-Naml: 33)

  • Penjelasan I’rab: Kata تَأْمُرِينَ adalah fi’il mudhari’ dari Al-Af’al Al-Khamsah (bersambung dengan ya’ mukhatabah). Ia tidak didahului nashib atau jazim. Oleh karena itu, ia marfu’ dengan tanda tetapnya nun.

الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ

(Yaitu) orang-orang yang beriman pada yang gaib, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. (QS. Al-Baqarah: 3)

  • Penjelasan I’rab: Kata يُؤْمِنُونَ, يُقِيمُونَ, dan يُنْفِقُونَ semuanya adalah fi’il mudhari’ dari Al-Af’al Al-Khamsah (bersambung dengan wawu jama’ah). Semuanya tidak didahului nashib atau jazim. Oleh karena itu, semuanya marfu’ dengan tanda tetapnya nun.

قَالُوْٓا اَتَعْجَبِيْنَ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ رَحْمَتُ اللّٰهِ وَبَرَكٰتُهٗ عَلَيْكُمْ اَهْلَ الْبَيْتِۗ اِنَّهٗ حَمِيْدٌ مَّجِيْدٌ

Mereka (para malaikat) berkata, “Apakah engkau merasa heran dengan ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat dan berkah Allah (yang) dicurahkan kepada kamu, wahai ahlulbait! Sesungguhnya Dia Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (QS. Hud: 73)

  • Penjelasan I’rab: Kata تَعْجَبِينَ adalah fi’il mudhari’ dari Al-Af’al Al-Khamsah (bersambung dengan ya’ mukhatabah). Ia tidak didahului nashib atau jazim. Oleh karena itu, ia marfu’ dengan tanda tetapnya nun.

Ringkasan

  • Nun (النون) adalah tanda pengganti untuk keadaan rafa’.

  • Nun menjadi tanda rafa’ khusus pada Al-Af’al Al-Khamsah (الأَفْعَالُ الْخَمْسَةُ).

  • Al-Af’al Al-Khamsah adalah lima bentuk fi’il mudhari’ yang bersambung dengan:

    • Dhamir Tatsniyah (أَلِفُ الِاثْنَيْنِ): يَفْعَلَانِ, تَفْعَلَانِ
    • Dhamir Jama’ (وَاوُ الْجَمَاعَةِ): يَفْعَلُونَ, تَفْعَلُونَ
    • Dhamir Muannats Mukhatabah (يَاءُ الْمُخَاطَبَةِ): تَفْعَلِينَ
  • Tanda rafa’ pada Al-Af’al Al-Khamsah adalah tetapnya Nun (ثُبُوتُ النُّونِ) di akhirnya, selama tidak didahului oleh nashib atau jazim.

Soal-soal

  1. Sebutkan empat tanda rafa’ yang disebutkan dalam matan Al-Ajurrumiyyah.
  2. Apa tanda rafa’ pada Al-Af’al Al-Khamsah?
  3. Sebutkan tiga jenis dhamir yang jika bersambung dengan fi’il mudhari’ akan menjadikannya Al-Af’al Al-Khamsah.
  4. Berikan satu contoh fi’il mudhari’ dari Al-Af’al Al-Khamsah yang bersambung dengan dhamir tatsniyah dan dhamir jama’, beserta artinya.
  5. Identifikasi dan jelaskan i’rab kata يُؤْمِنُونَ dalam ayat الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ. (QS. Al-Baqarah: 3).
  6. Apakah fi’il mudhari’ yang bersambung dengan nun an-niswa (نُونُ النِّسْوَةِ) termasuk Al-Af’al Al-Khamsah yang di-rafa’ dengan nun? Jelaskan.

Jawaban

  1. Sebutkan empat tanda rafa’ yang disebutkan dalam matan Al-Ajurrumiyyah.
    • Jawaban: Dammah (اَلضَّمَّةُ), Wawu (الْوَاوُ), Alif (الْأَلِفُ), dan Nun (النُّونُ).
  2. Apa tanda rafa’ pada Al-Af’al Al-Khamsah?
    • Jawaban: Tanda rafa’ pada Al-Af’al Al-Khamsah adalah tetapnya Nun (ثُبُوتُ النُّونِ).
  3. Sebutkan tiga jenis dhamir yang jika bersambung dengan fi’il mudhari’ akan menjadikannya Al-Af’al Al-Khamsah.
    • Jawaban: Dhamir Tatsniyah (أَلِفُ الِاثْنَيْنِ), Dhamir Jama’ (وَاوُ الْجَمَاعَةِ), dan Dhamir Muannats Mukhatabah (يَاءُ الْمُخَاطَبَةِ).
  4. Berikan satu contoh fi’il mudhari’ dari Al-Af’al Al-Khamsah yang bersambung dengan dhamir tatsniyah dan dhamir jama’, beserta artinya.
    • Jawaban:
      • Dhamir Tatsniyah: يَشْرَبَانِ (Mereka berdua sedang/akan minum).
      • Dhamir Jama’: يَشْرَبُونَ (Mereka (laki-laki) sedang/akan minum). (Contoh lain juga diterima)
  5. Identifikasi dan jelaskan i’rab kata يُؤْمِنُونَ dalam ayat الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ. (QS. Al-Baqarah: 3).
    • Jawaban: Kata يُؤْمِنُونَ adalah fi’il mudhari’ dari Al-Af’al Al-Khamsah (bersambung dengan wawu jama’ah). Ia tidak didahului nashib atau jazim. Oleh karena itu, ia marfu’ dengan tanda tetapnya nun.
  6. Apakah fi’il mudhari’ yang bersambung dengan nun an-niswa (نُونُ النِّسْوَةِ) termasuk Al-Af’al Al-Khamsah yang di-rafa’ dengan nun? Jelaskan.
    • Jawaban: Tidak. Fi’il mudhari’ yang bersambung dengan nun an-niswa (seperti يَكْتُبْنَ) adalah fi’il mabniy ‘alas-sukun (tetap sukun di akhirnya), bukan mu’rab yang di-rafa’ dengan nun. Al-Af’al Al-Khamsah hanya mencakup bentuk-bentuk yang bersambung dengan alif tatsniyah, wawu jama’ah, atau ya’ mukhatabah.

Penutup

Alhamdulillah, pada Serial Nahwu Al-Ajurumiyyah ini kita telah membahas secara mendalam tentang Nun sebagai tanda rafa’ khusus pada Al-Af’al Al-Khamsah. Kita telah memahami definisinya, jenis-jenis dhamir yang bersambung dengannya, dan melihat contoh-contohnya dari bahasa Arab umum dan Al-Qur’an, serta menganalisis i’rabnya.

Dengan berakhirnya pembahasan Nun ini, kita telah menyelesaikan seluruh pembahasan mengenai tanda-tanda rafa’. Insya Allah, pada Serial Nahwu Al-Ajurumiyyah berikutnya, kita akan beralih ke keadaan I’rab selanjutnya, yaitu Nashab, dan mulai mempelajari tanda-tandanya.

Tetaplah bersemangat dalam menuntut ilmu nahwu, dan semoga Allah SWT senantiasa memberikan kemudahan dan pemahaman kepada kita semua.