Setelah kita tuntas mempelajari seluruh tanda Rafa’ (الرَّفْعُ) yang berjumlah empat (Dammah, Wawu, Alif, dan Nun), kini saatnya kita beralih ke tanda I’rab selanjutnya, yaitu Nashab (النَّصْبُ). Nashab adalah keadaan I’rab yang menunjukkan suatu kata berkedudukan sebagai objek, keterangan, atau mengikuti fungsi tertentu dalam kalimat.

Imam Ibnu Ajurrum رحمه الله menjelaskan tanda-tanda nashab dalam matannya:

وَلِلنَّصْبِ خَمْسُ عَلَامَاتٍ: الْفَتْحَةُ، وَالْأَلِفُ، وَالْكَسْرَةُ، وَالْيَاءُ، وَحَذْفُ النُّونِ.

“Untuk nashab ada lima tanda: Fathah, Alif, Kasrah, Ya’, dan Membuang Nun.

Mari kita bahas kelima tanda nashab ini secara ringkas.

Tanda-Tanda Nashab

Keadaan nashab memiliki lima tanda utama:

  1. الفَتْحَةُ (Fathah): Merupakan tanda asli untuk nashab.
  2. الْأَلِفُ (Alif): Merupakan tanda pengganti untuk nashab.
  3. الْكَسْرَةُ (Kasrah): Merupakan tanda pengganti untuk nashab.
  4. الْيَاءُ (Ya’): Merupakan tanda pengganti untuk nashab.
  5. حَذْفُ النُّونِ (Hadzfun-Nun – Membuang Nun): Merupakan tanda pengganti untuk nashab.

Setiap tanda ini muncul pada jenis-jenis kata tertentu sesuai dengan kaidah ilmu nahwu.

Mari kita bahas setiap tanda nashab ini dengan contoh-contoh yang relevan.

1. الفَتْحَةُ (Fathah)

Fathah adalah tanda asli nashab dan menjadi tanda nashab pada tiga tempat:

فَأَمَّا الْفَتْحَةُ: فَتَكُونُ عَلَامةً لِلنَّصْبِ فِي ثَلَاثَةِ مَوَاضِعَ: فِي الْاِسْمِ الْمُفْرَدِ، وَجَمْعِ التَّكْسِيرِ، وَالْفِعْلِ الْمُضَارِعِ إِذَا دَخَلَ عَلَيْهِ نَاصِبٌ وَلَمْ يَتَّصِلْ بِآَخِرِهِ شَيْءٌ.

“Adapun Fathah, maka ia menjadi tanda nashab pada tiga tempat: pada Isim Mufrad, Jama’ Taksir, dan Fi’il Mudhari’ Shahih Akhir yang kemasukan nashib dan tidak bersambung dengan apapun di akhirnya.

  • Isim Mufrad (اِسْمٌ مُفْرَدٌ): Kata benda tunggal.

    • Contoh: رَأَيْتُ الْكِتَابَ. (Aku melihat kitab itu.)

      • Penjelasan I’rab: الْكِتَابَ adalah isim mufrad, berkedudukan sebagai maf’ul bih, maka ia manshub dengan tanda fathah yang tampak.

  • Jama’ Taksir (جَمْعُ التَّكْسِيرِ): Jamak yang bentuk tunggalnya berubah.

    • Contoh: قَرَأْتُ الْكُتُبَ. (Aku membaca buku-buku itu.)

      • Penjelasan I’rab: الْكُتُبَ adalah jama’ taksir, berkedudukan sebagai maf’ul bih, maka ia manshub dengan tanda fathah yang tampak.

  • Fi’il Mudhari’ Shahih Akhir (فِعْلٌ مُضَارِعٌ صَحِيحُ الْآخِرِ) yang kemasukan nashib dan tidak bersambung dengan apapun di akhirnya:

    • Contoh: لَنْ يَذْهَبَ عَلِيٌّ. (Ali tidak akan pergi.)

      • Penjelasan I’rab: يَذْهَبَ adalah fi’il mudhari’ shahih akhir, manshub karena didahului oleh nashib لَنْ. Tanda nashab-nya adalah fathah yang tampak.

2. الْأَلِفُ (Alif)

Alif adalah tanda pengganti nashab dan menjadi tanda nashab khusus pada satu jenis isim:

وَأَمَّا الْأَلِفُ: فَتَكُونُ عَلَامَةً لِلنَّصْبِ فِي الْأَسْمَاءِ الْخَمْسَةِ، نَحْوَ: “رَأَيْتُ أَبَاكَ وَأَخَاكَوَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ.

“Adapun Alif, maka ia menjadi tanda nashab pada Al-Asma’ Al-Khamsah (lima isim khusus), contohnya: “Aku melihat ayahmu dan saudaramu” dan yang serupa dengan itu.”

  • Al-Asma’ Al-Khamsah (الْأَسْمَاءُ الْخَمْسَةُ): Lima isim khusus (أَبٌ، أَخٌ، حَمٌ، فُو، ذُو), dengan syarat-syarat tertentu.

    • Contoh: رَأَيْتُ أَبَاكَ. (Aku melihat ayahmu.)

      • Penjelasan I’rab: أَبَاكَ adalah salah satu dari Al-Asma’ Al-Khamsah, berkedudukan sebagai maf’ul bih, maka ia manshub dengan tanda alif sebagai pengganti fathah.

3. الْكَسْرَةُ (Kasrah)

Kasrah adalah tanda pengganti nashab dan menjadi tanda nashab khusus pada satu jenis isim:

وَأَمَّا الْكَسْرَةُ: فَتَكُونُ عَلَامَةً لِلنَّصْبِ فِي جَمْعِ الْمُؤَنَّثِ السَّالِمِ.

“Adapun Kasrah, maka ia menjadi tanda nashab pada Jama’ Muannats Salim.”

  • Jama’ Muannats Salim (جَمْعُ الْمُؤَنَّثِ السَّالِمِ): Jamak perempuan yang bentuk tunggalnya selamat.

    • Contoh: خَلَقَ اللّٰهُ السَّمَاوَاتِ. (Allah menciptakan langit-langit.)

      • Penjelasan I’rab: السَّمَاوَاتِ adalah jama’ muannats salim, berkedudukan sebagai maf’ul bih, maka ia manshub dengan tanda kasrah sebagai pengganti fathah.

4. الْيَاءُ (Ya’)

Ya’ adalah tanda pengganti nashab dan menjadi tanda nashab pada dua jenis kata:

وَأَمَّا الْيَاءُ: فَتَكُونُ عَلَامَةً لِلنَّصْبِ فِي التَّثْنِيَةِ وَالْجَمْعِ.

“Adapun Ya’, maka ia menjadi tanda nashab pada Isim Mutsanna (tatsniyah) dan Jama’ Mudzakkar Salim (jamak).”

  • Isim Mutsanna (التَّثْنِيَةِ): Isim yang menunjukkan makna ganda/dua.

    • Contoh: رَأَيْتُ الرَّجُلَيْنِ. (Aku melihat dua orang laki-laki itu.)

      • Penjelasan I’rab: الرَّجُلَيْنِ adalah isim mutsanna, berkedudukan sebagai maf’ul bih, maka ia manshub dengan tanda ya’.

  • Jama’ Mudzakkar Salim (الْجَمْعِ): Jamak laki-laki yang bentuk tunggalnya selamat.

    • Contoh: رَأَيْتُ الْمُسْلِمِينَ. (Aku melihat para muslim (laki-laki) itu.)

      • Penjelasan I’rab: الْمُسْلِمِينَ adalah jama’ mudzakkar salim, berkedudukan sebagai maf’ul bih, maka ia manshub dengan tanda ya’.

5. حَذْفُ النُّونِ (Hadzfun-Nun – Membuang Nun)

Hadzfun-Nun adalah tanda pengganti nashab dan menjadi tanda nashab pada satu jenis fi’il:

وَأَمَّا حَذْفُ النُّونِ: فَيَكُونُ عَلَامَةً لِلنَّصْبِ فِي الْأَفْعَالِ الْخَمْسَةِ الْتِي رَفْعُهَا بِثَبَاتِ النُّونِ.

“Adapun Membuang Nun, maka ia menjadi tanda nashab pada Al-Af’al Al-Khamsah (lima fi’il khusus) yang rafa’-nya dengan tetapnya Nun.”

  • Al-Af’al Al-Khamsah (الْأَفْعَالُ الْخَمْسَةِ): Lima bentuk fi’il mudhari’ yang rafa’-nya dengan tetapnya nun.

    • Contoh: لَنْ يَكْتُبَا الدَّرْسَ. (Mereka berdua tidak akan menulis pelajaran.)

      • Penjelasan I’rab: يَكْتُبَا adalah fi’il mudhari’ dari Al-Af’al Al-Khamsah, manshub karena didahului لَنْ. Tanda nashab-nya adalah membuang nun.

Kaidah Nashab: Setiap Maf’ul Adalah Manshub

Sebelum masuk ke detail tanda-tanda nashab, ada sebuah kaidah emas dalam ilmu nahwu yang sangat penting untuk kita pahami:

كُلُّ مَفْعُولٍ مَنْصُوبٌ. “Setiap maf’ul (objek atau keterangan) adalah manshub.”

Kaidah ini sangat membantu kita dalam mengidentifikasi kata-kata yang harus berada dalam keadaan nashab. Dalam bahasa Arab, ada beberapa jenis maf’ul (objek atau keterangan), seperti:

  • Maf’ul Bih (Objek langsung dari kata kerja)

  • Maf’ul Mutlaq (Objek yang berasal dari kata kerja itu sendiri, berfungsi sebagai penegas atau penjelas)

  • Maf’ul Fih (Keterangan waktu atau tempat, dikenal juga sebagai zharaf zaman atau zharaf makan)

  • Maf’ul Li Ajlih (Keterangan sebab/tujuan)

  • Maf’ul Ma’ah (Keterangan bersama)

Semua jenis maf’ul ini wajib berada dalam keadaan nashab.

Contoh:

  • قَرَأْتُ الْكِتَابَ. (Aku telah membaca kitab itu.)

    • الْكِتَابَ adalah maf’ul bih, maka ia manshub.

  • نَامَ الطِّفْلُ نَوْمًا عَمِيقًا. (Anak itu tidur dengan tidur yang nyenyak.)

    • نَوْمًا adalah maf’ul mutlaq, maka ia manshub.

  • سَافَرْتُ يَوْمَ الْجُمْعَةِ. (Aku bepergian pada hari Jumat.)

    • يَوْمَ adalah maf’ul fih (zharaf zaman), maka ia manshub.

Soal-soal

  1. Sebutkan lima tanda nashab.
  2. Pada jenis kata apa saja Fathah menjadi tanda nashab? Berikan satu contoh untuk setiap jenis.
  3. Mengapa Kasrah menjadi tanda nashab pada Jama’ Muannats Salim? Berikan contohnya.
  4. Kapan Ya’ menjadi tanda nashab? Berikan contoh untuk setiap kasus.
  5. Apa tanda nashab pada Al-Af’al Al-Khamsah? Berikan contohnya.
  6. Identifikasi tanda nashab pada أَخَاكَ dalam kalimat رَأَيْتُ أَبَاكَ وَأَخَاكَ.

Jawaban dan Pembahasan Soal-soal

  1. Sebutkan lima tanda nashab.
    • Jawaban: Fathah (الْفَتْحَةُ), Alif (الْأَلِفُ), Kasrah (الْكَسْرَةُ), Ya’ (الْيَاءُ), dan Membuang Nun (حَذْفُ النُّونِ).
  2. Pada jenis kata apa saja Fathah menjadi tanda nashab? Berikan satu contoh untuk setiap jenis.
    • Jawaban:
      • Isim Mufrad: رَأَيْتُ الْقَلَمَ. (Aku melihat pena itu.)
      • Jama’ Taksir: قَرَأْتُ الْكُتُبَ. (Aku membaca buku-buku itu.)
      • Fi’il Mudhari’ Shahih Akhir: لَنْ يَشْرَبَ الْوَلَدُ. (Anak itu tidak akan minum.)
  3. Mengapa Kasrah menjadi tanda nashab pada Jama’ Muannats Salim? Berikan contohnya.
    • Jawaban: Karena Jama’ Muannats Salim memiliki kekhususan di mana ia tidak menerima fathah sebagai tanda nashab, melainkan diganti dengan kasrah. Contoh: خَلَقَ اللّٰهُ السَّمَاوَاتِ. (Allah menciptakan langit-langit.)
  4. Kapan Ya’ menjadi tanda nashab? Berikan contoh untuk setiap kasus.
    • Jawaban: Ya’ menjadi tanda nashab pada:
      • Isim Mutsanna: رَأَيْتُ الطَّالِبَيْنِ. (Aku melihat dua siswa itu.)
      • Jama’ Mudzakkar Salim: نَصَرَ اللّٰهُ الْمُسْلِمِينَ. (Allah menolong kaum muslimin.)
  5. Apa tanda nashab pada Al-Af’al Al-Khamsah? Berikan contohnya.
    • Jawaban: Tanda nashab pada Al-Af’al Al-Khamsah adalah Membuang Nun (حَذْفُ النُّونِ). Contoh: لَنْ تَقْرَأُوا الْكِتَابَ. (Kalian tidak akan membaca kitab itu.)
  6. Identifikasi tanda nashab pada أَخَاكَ dalam kalimat رَأَيْتُ أَبَاكَ وَأَخَاكَ.
    • Jawaban: Tanda nashab pada أَخَاكَ adalah Alif (ا). Kata ini adalah salah satu dari Al-Asma’ Al-Khamsah yang di-i’rab dengan alif saat nashab.

Penutup

Alhamdulillah, pada Serial Nahwu Al-Ajurumiyyah ini kita telah mempelajari secara ringkas tentang tanda-tanda nashab yang berjumlah lima. Kita telah melihat bagaimana Fathah, Alif, Kasrah, Ya’, dan Hadzfun-Nun menjadi penanda keadaan nashab pada jenis-jenis kata yang berbeda.

Insya Allah, pada Serial Nahwu Al-Ajurumiyyah berikutnya, kita akan membahas setiap tanda nashab ini secara lebih mendalam, disertai contoh-contoh dari Al-Qur’an dan Hadits untuk memperkuat pemahaman kita. Tetaplah bersemangat dalam menuntut ilmu nahwu, dan semoga Allah SWT senantiasa memberikan kemudahan dan pemahaman kepada kita semua.