Selamat datang kembali di serial Nahwu Al-Ajurumiyyah! Kita telah menuntaskan pembahasan tentang tanda-tanda Khafadh/Jar, termasuk tanda Fathah yang unik pada Isim Ghairu Munsharif. Kini, kita akan menyelami lebih dalam tentang Isim Ghairu Munsharif (اِسْمٌ غَيْرُ مُنْصَرِفٍ) itu sendiri.
Memahami Isim Ghairu Munsharif adalah salah satu bab yang paling penting dan seringkali menantang dalam Ilmu Nahwu. Kekhasan I’rabnya (tidak bertanwin dan di-khafadhkan dengan Fathah) membuat kita harus mengenali jenis-jenis isim ini dengan baik.
Pada serial Nahwu Al-Ajurumiyyah kali ini, kita akan membahas secara lengkap dan rinci tentang berbagai jenis Isim Ghairu Munsharif, serta illat (sebab) yang menyebabkannya tidak menerima tanwin dan kasrah. Mari kita mulai!
Isim Ghairu Munsharif (Isim Mamnu’ Minash Sharfi)
Isim Ghairu Munsharif (اِسْمٌ غَيْرُ مُنْصَرِفٍ) atau disebut juga Isim Mamnu’ Minash Sharfi (اِسْمٌ مَمْنُوعٌ مِنَ الصَّرْفِ) adalah isim yang tidak menerima tanwin dan tidak menerima kasrah.
Seperti yang telah kita pelajari di serial Nahwu Al-Ajurumiyyah 035, I’rabnya adalah:
-
Di-rafa’kan dengan Dhammah (tanpa tanwin).
-
Di-nashabkan dengan Fathah (tanpa tanwin).
-
Di-jarrkan (Khafadhkan) dengan Fathah (tanpa tanwin), BUKAN kasrah.
Penyebab sebuah isim menjadi ghairu munsharif adalah adanya satu illat (sebab) yang kuat atau dua illat (sebab) yang melekat padanya.
1. Isim Ghairu Munsharif yang Disebabkan Satu Illat (Sebab)
Ada dua jenis Isim Ghairu Munsharif yang hanya memerlukan satu illat (sebab) untuk menjadi ghairu munsharif. Satu illat ini dianggap setara dengan dua illat.
A. Shighat Muntahal Jumu’ (صِيغَةُ مُنْتَهَى الْجُمُوعِ)
Ini adalah bentuk jamak taksir yang paling akhir (puncaknya), yaitu setiap jamak taksir yang setelah huruf alif jamaknya terdapat dua huruf atau tiga huruf yang tengahnya sukun.
a. Wazan مَفَاعِلُ
Ini adalah jamak taksir yang memiliki pola: (huruf) – (fathah) – (alif) – (fathah) – (kasrah) – (huruf). Setelah alif jamaknya terdapat dua huruf.
-
Contoh:
- مَسَاجِدُ (masjid-masjid) – mufradnya: مَسْجِدٌ
- مَدَارِسُ (sekolah-sekolah) – mufradnya: مَدْرَسَةٌ
- مَنَابِرُ (mimbar-mimbar) – mufradnya: مِنْبَرٌ
- قَبَائِلُ (kabilah-kabilah) – mufradnya: قَبِيلَةٌ
- حَدَائِقُ (taman-taman) – mufradnya: حَدِيقَةٌ
-
Contoh dari QS Al-Hajj (22): 40:
الَّذِيْنَ اُخْرِجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ اِلَّآ اَنْ يَّقُوْلُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ۗوَلَوْلَا دَفْعُ اللّٰهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَّهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَّصَلَوٰتٌ وَّمَسٰجِدُ يُذْكَرُ فِيْهَا اسْمُ اللّٰهِ كَثِيْرًاۗ وَلَيَنْصُرَنَّ اللّٰهُ مَنْ يَّنْصُرُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ لَقَوِيٌّ عَزِيْزٌ
(Yaitu) orang-orang yang diusir dari kampung halamannya, tanpa alasan yang benar hanya karena mereka berkata, “Tuhan kami adalah Allah.” Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara, gereja-gereja, sinagoge-sinagoge, dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sungguh, Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.
-
صَوَامِعُ: Jamak taksir wazan مَفَاعِلُ. Berkedudukan Rafa’ (sebagai Naibul Fa’il dari
هُدِّمَتْ). Tandanya dhammah. Ia ghairu munsharif. -
مَسَاجِدُ: Jamak taksir wazan مَفَاعِلُ. Berkedudukan Rafa’ (diathafkan pada
صَوَامِعُ). Tandanya dhammah. Ia ghairu munsharif.
b. Wazan مَفَاعِيْلُ
Ini adalah jamak taksir yang memiliki pola: (huruf) – (fathah) – (alif) – (fathah) – (ya’) – (kasrah) – (huruf). Setelah alif jamaknya terdapat tiga huruf yang tengahnya sukun (yaitu ya’ sukun).
-
Contoh:
- مَصَابِيْحُ (lampu-lampu) – mufradnya: مِصْبَاحٌ
- مَفَاتِيْحُ (kunci-kunci) – mufradnya: مِفْتَاحٌ
- دَنَانِيْرُ (dinar-dinar) – mufradnya: دِينَارٌ
- تَمَاثِيْلُ (patung-patung) – mufradnya: تِمْثَالٌ
- قَنَادِيْلُ (lentera-lentera) – mufradnya: قِنْدِيلٌ
-
Contoh dari QS Al-Mulk (67): 5:
وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاۤءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيْحَ وَجَعَلْنٰهَا رُجُوْمًا لِّلشَّيٰطِيْنِ وَاَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيْرِ
Sungguh, Kami benar-benar telah menghiasi langit dunia dengan bintang-bintang, menjadikannya (bintang-bintang itu) sebagai alat pelempar terhadap setan, dan menyediakan bagi mereka (setan-setan itu) azab (neraka) Sa‘ir (yang menyala-nyala).
-
مَصَابِيحَ: Jamak taksir wazan مَفَاعِيلُ. Berkedudukan Khafadh/Jar (setelah huruf Jar
بِـ). Tandanya fathah, karena ia ghairu munsharif dan tidak diawali alif lam serta tidak di-idhafahkan.
B. Muannats yang Diakhiri dengan Alif Ta’nits (ألف التأنيث)
Ini adalah isim muannats yang diakhiri dengan alif yang berfungsi sebagai penanda kemuannatsan (femininitas). Alif ini adalah alif lazimah (tidak bisa dipisah).
a. Muannats yang akhir lafadznya alif ta’nits maqshurah (ألف التأنيث المقصورة)
-
Ini adalah isim yang diakhiri dengan alif yang bentuknya seperti ya’ tanpa titik (ى) atau alif lurus (ا), dan sebelumnya berharakat fathah. Alif ini menunjukkan kemuannatsan.
-
Contoh:
- سَلْمَىٰ (Salma – nama perempuan)
- لَيْلَىٰ (Layla – nama perempuan)
- حُبْلَىٰ (hubla – hamil) – sifat
- ذِكْرَىٰ (dzikra – peringatan) – isim jamid
- دُنْيَا (dunya – dunia)
- كُبْرَىٰ (kubra – yang paling besar (pr)) – sifat
b. Muannats yang akhir lafadznya alif ta’nits mamdudah (ألف التأنيث الممدودة)
-
Ini adalah isim yang diakhiri dengan alif diikuti hamzah (اء). Alif ini menunjukkan kemuannatsan.
-
Contoh:
- صَحْرَاءُ (sahra’u – padang pasir)
- حَمْرَاءُ (hamra’u – merah (pr)) – sifat
- بَيْضَاءُ (baydha’u – putih (pr)) – sifat
- عُلَمَاءُ (ulama’u – para ulama) – jamak taksir (meskipun jamak, ia ghairu munsharif karena wazan ini)
- أَشْيَاءُ (asyya’u – sesuatu/benda-benda) – jamak taksir
- أَطِبَّاءُ (athibbā’u – para dokter) – jamak taksir
2. Isim Ghairu Munsharif yang Disebabkan Dua Illat (Sebab)
Jenis Isim Ghairu Munsharif ini memerlukan dua illat (sebab) yang melekat padanya untuk menjadi ghairu munsharif. Illat-illat ini terbagi menjadi dua kategori besar: Alamiyyah (nama diri) dan Sifat (kata sifat), yang masing-masing harus digabungkan dengan illat lain.
A. Alamiyyah (العَلَمِيَّةُ) + Sebab Lain
Ini adalah nama diri (isim alam) yang digabungkan dengan salah satu dari lima illat berikut:
1. Nama-nama Muannats (العَلَمُ الْمُؤَنَّثُ)
Nama diri yang berjenis kelamin perempuan. Ini adalah illat yang sangat umum.
-
Muannats Lafdziy (مُؤَنَّثٌ لَفْظِيٌّ): Nama laki-laki yang diakhiri dengan tanda kemuannatsan (ta marbuthah).
-
Meskipun namanya laki-laki, bentuk lafazhnya menunjukkan perempuan.
-
Contoh:
-
- طَلْحَةُ (Thalhah – nama sahabat laki-laki)
- حَمْزَةُ (Hamzah – nama sahabat laki-laki)
- مُعَاوِيَةُ (Mu’awiyah – nama sahabat laki-laki)
- عُرْوَةُ (Urwah – nama laki-laki)
- زَكَرِيَّاءُ (Zakariya – nama nabi, diakhiri alif mamdudah)
- عُقْبَةُ (Uqbah – nama laki-laki)
-
Muannats Maknawiy (مُؤَنَّثٌ مَعْنَوِيٌّ): Nama perempuan yang tidak diakhiri dengan tanda kemuannatsan (ta marbuthah).
-
Lafazhnya seperti laki-laki, tapi maknanya perempuan.
-
Contoh:
-
- زَيْنَبُ (Zainab)
- سُعَادُ (Su’ad)
- مَرْيَمُ (Maryam)
- هِنْدُ (Hind)
- شَمْسُ (Syams – jika digunakan sebagai nama perempuan)
- سَحَرُ (Sahar – nama perempuan)
-
Muannats Lafdziy Maknawiy (مُؤَنَّثٌ لَفْظِيٌّ مَعْنَوِيٌّ): Nama perempuan yang diakhiri dengan tanda kemuannatsan.
-
Baik lafazh maupun maknanya menunjukkan perempuan.
-
Contoh:
-
- فَاطِمَةُ (Fatimah)
- عَائِشَةُ (Aisyah)
- خَدِيجَةُ (Khadijah)
- مَكَّةُ (Makkah – nama tempat)
- مَدِينَةُ (Madinah – nama tempat)
- جَنَّةُ (Jannah – jika digunakan sebagai nama perempuan)
-
Beberapa Catatan Penting:
- Seluruh nama muannats tidak bertanwin kecuali yang terdiri dari tiga huruf dan tengahnya sukun, maka boleh bertanwin dan tidak bertanwin (munsharif atau ghairu munsharif).
- Contoh: مِصْرُ (Mesir) dan هِنْدُ (Hind).
- Contoh dalam Al-Qur’an:
-
- QS Al-Baqarah (2): 61:
اِهْبِطُوْا مِصْرًا فَاِنَّ لَكُمْ مَّا سَاَلْتُمْ ۗ
Pergilah ke suatu kota. Pasti kamu akan memperoleh apa yang kamu minta.
-
-
- Kata مِصْرًا berkedudukan Nashab (sebagai Maf’ul Fih/keterangan tempat). Tandanya fathah tanwin. Di sini ia munsharif (bertanwin) karena dianggap sebagai nama kota secara umum, bukan nama spesifik “Mesir” sebagai negara, atau karena ia nama tiga huruf tengahnya sukun.
- QS. Yusuf (12): 99:
-
فَلَمَّا دَخَلُوْا عَلٰى يُوْسُفَ اٰوٰٓى اِلَيْهِ اَبَوَيْهِ وَقَالَ ادْخُلُوْا مِصْرَ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ اٰمِنِيْنَ ۗ
Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, dia merangkul ibu bapaknya seraya berkata, “Masuklah ke negeri Mesir. Insyaallah dalam keadaan aman.”
-
-
- Kata مِصْرَ berkedudukan Nashab (sebagai Maf’ul Fih/keterangan tempat). Tandanya fathah. Di sini ia ghairu munsharif (tidak bertanwin) karena dianggap sebagai nama spesifik negara “Mesir”.
- QS. Yusuf (12): 21:
-
وَقَالَ الَّذِى اشْتَرٰىهُ مِنْ مِّصْرَ لِامْرَاَتِهٖٓ اَكْرِمِيْ مَثْوٰىهُ عَسٰىٓ اَنْ يَّنْفَعَنَآ اَوْ نَتَّخِذَهٗ وَلَدًا ۗوَكَذٰلِكَ مَكَّنَّا لِيُوْسُفَ فِى الْاَرْضِۖ وَلِنُعَلِّمَهٗ مِنْ تَأْوِيْلِ الْاَحَادِيْثِۗ وَاللّٰهُ غَالِبٌ عَلٰٓى اَمْرِهٖ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ
Orang Mesir yang membelinya berkata kepada istrinya, “Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik. Mudah-mudahan dia bermanfaat bagi kita atau kita pungut dia sebagai anak.” Demikianlah, (kelak setelah dewasa,) Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di negeri (Mesir) dan agar Kami mengajarkan kepadanya takwil mimpi. Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti.
-
-
- Kata مِصْرَ berkedudukan Khafadh/Jar (setelah huruf Jar
مِنْ). Tandanya fathah. Ia ghairu munsharif.
- Kata مِصْرَ berkedudukan Khafadh/Jar (setelah huruf Jar
-
-
-
Seluruh muannats yang diakhiri dengan alif mamdudah dan maqshurah masuk dalam kategori isim ghairu munsharif, baik itu nama, sifat, dan isim jamid.
-
Contoh:
-
-
-
-
زَكَرِيَّاءُ (Zakariya – nama)
-
حُبْلَىٰ (hubla – hamil – sifat)
-
صَحْرَاءُ (sahra’u – padang pasir – isim jamid)
-
كُبْرَىٰ (kubra – yang paling besar (pr) – sifat)
-
عُلَمَاءُ (ulama’u – para ulama – jamak taksir, tapi wazan mamdudah)
-
-
-
- Muannats yang tidak diakhiri dengan alif ada tiga jenis: Muannats lafdzy, muannats maknawiy, dan muannats lafdzy maknawiy (seperti yang dijelaskan di atas).
- Pada nama muannats semuanya harus alamiyyah (nama), kalau bukan nama maka bertanwin.
- Seperti lafazh عَائِشَةٌ (Aisyah) dan فَاطِمَةٌ (Fatimah), jika hanya digunakan untuk sekadar sifat maka dua lafazh ini bertanwin.
Contoh:
-
جَاءَتْ فَاطِمَةُ.
-
Terjemahan: Fatimah telah datang.
-
Kata فَاطِمَةُ adalah nama (alam), maka ia ghairu munsharif. Rafa’nya dengan dhammah tanpa tanwin.
-
-
جَاءَتْ امْرَأَةٌ فَاطِمَةٌ.
-
Terjemahan: Seorang wanita yang gemuk telah datang.
-
Kata فَاطِمَةٌ di sini bukan nama, melainkan sifat (yang gemuk). Maka ia munsharif (bertanwin). Rafa’nya dengan dhammah tanwin.
- Begitu juga dengan lafazh خَمْرٌ (khamrun – khamar/minuman keras), lafazh ini muannats maknawiy (secara makna ia muannats) tetapi ia bertanwin karena bukan ‘alam (nama).
- Penjelasan: Meskipun
خَمْرٌsecara gramatikal adalah muannats (karena jamaknyaخُمُورٌdan kata sifatnyaخَمْرَةٌ), ia tidak ghairu munsharif karena ia adalah isim jenis (kata benda umum), bukan nama diri. Oleh karena itu, ia munsharif (menerima tanwin dan kasrah). - Contoh: شَرِبْتُ خَمْرًا (Aku minum khamar).
خَمْرًاNashab dengan fathah tanwin.
-
-
- Seperti lafazh عَائِشَةٌ (Aisyah) dan فَاطِمَةٌ (Fatimah), jika hanya digunakan untuk sekadar sifat maka dua lafazh ini bertanwin.
2. Nama-nama ‘Ajam/Non Arab (العَلَمُ الْأَعْجَمِيُّ)
Nama diri yang berasal dari bahasa selain Arab.
-
Tidak bertanwin karena ada dua illat: alamiyyah (nama) dan ujmah (keasingan). Tetapi disyaratkan pada nama ‘ajam ini lafazhnya harus lebih dari tiga huruf. Jika tiga huruf dan huruf tengahnya sukun, maka lafazhnya menjadi bertanwin (munsharif).
-
Contoh Nama ‘Ajam (lebih dari 3 huruf):
- إِبْرَاهِيمُ (Ibrahim)
- إِسْمَاعِيلُ (Ismail)
- يُوسُفُ (Yusuf)
- مُوسَىٰ (Musa)
- عِيسَىٰ (Isa)
- لَنْدَنُ (London)
- بَارِيسُ (Paris)
- سُلَيْمَانُ (Sulaiman)
-
Contoh Nama ‘Ajam 3 Huruf Tengah Sukun (Munsharif):
- نُوحٌ (Nuh)
- لُوطٌ (Luth)
- هُودٌ (Hud)
3. A’lam (nama-nama) yang diakhiri dengan huruf alif dan nun Zaidah (العَلَمُ الْمَزِيدُ بِأَلِفٍ وَنُونٍ)
Nama diri yang diakhiri dengan Alif dan Nun tambahan.
-
Illatnya adalah alamiyyah (nama) dan tambahan alif dan nun.
-
Contoh:
- عُثْمَانُ (Utsman)
- سَلْمَانُ (Salman)
- عِمْرَانُ (Imran)
- مَرْوَانُ (Marwan)
4. A’lam Murakkab Tarkib Mazjiy (العَلَمُ الْمُرَكَّبُ تَرْكِيبًا مَزْجِيًّا)
Nama diri yang tersusun dari dua kata yang digabungkan menjadi satu tanpa ada pemisah.
-
Illatnya adalah alamiyyah (nama) dan tarkib mazjiy (gabungan).
-
Contoh:
- بَعْلَبَكُّ (Ba’labak – nama kota kuno)
- حَضْرَمَوْتُ (Hadramaut – nama daerah)
- مَعْدِيْكَرِبُ (Ma’dikarib – nama orang)
5. Nama-nama dengan Wazan Fi’il (العَلَمُ عَلَى وَزْنِ الْفِعْلِ)
Nama diri yang memiliki pola (wazan) seperti Fi’il (kata kerja).
-
Illatnya adalah alamiyyah (nama) dan wazan fi’il.
-
Contoh:
- أَحْمَدُ (Ahmad) – seperti
أَكْتُبُ(aku menulis) - يَزِيدُ (Yazid) – seperti
يَجْلِسُ(dia duduk) - تَغْلِبُ (Taghlib – nama kabilah) – seperti
تَكْتُبُ(dia (pr) menulis) - أَكْرَمُ (Akram – nama orang) – seperti
أَكْرَمَ(dia memuliakan)
6. Nama-nama yang Terubah dari Satu Wazan kepada Wazan yang lain (العَلَمُ الْمَعْدُولُ)
Nama diri yang asalnya memiliki wazan tertentu, kemudian diubah ke wazan lain.
-
Illatnya adalah alamiyyah (nama) dan ‘adl (perubahan wazan).
-
Contoh:
- عُمَرُ (Umar) – asalnya dari
عَامِرٌ(Aamir) - زُفَرُ (Zufar) – asalnya dari
زَافِرٌ(Zaafir) - هُبَلُ (Hubal) – asalnya dari
هَابِلٌ(Haabil) - مُضَرُ (Mudhar) – asalnya dari
مَاضِرٌ(Maadhir) - جُشَمُ (Jusyam) – asalnya dari
جَاشِمٌ(Jaashim)
B. Sifat (الصِّفَةُ) + Sebab Lain
Ini adalah kata sifat yang digabungkan dengan salah satu dari tiga illat berikut:
1. Sifat-sifat yang Berwazan Fi’il (الصِّفَةُ عَلَى وَزْنِ الْفِعْلِ)
Kata sifat yang memiliki pola (wazan) seperti Fi’il (kata kerja).
-
Illatnya adalah sifat dan wazan fi’il.
-
Contoh:
- أَفْضَلُ (lebih utama) – seperti
أَكْتُبُ(aku menulis) - أَكْبَرُ (lebih besar) – seperti
أَذْهَبُ(aku pergi) - أَحْسَنُ (lebih baik) – seperti
أَجْلِسُ(aku duduk) - أَعْمَىٰ (buta) – seperti
أَشْرَبُ(aku minum) - أَصْغَرُ (lebih kecil) – seperti
أَنْظُرُ(aku melihat)
2. Sifat-sifat yang Diharakati dengan Huruf Alif dan Nun (الصِّفَةُ الْمَزِيدَةُ بِأَلِفٍ وَنُونٍ)
Kata sifat yang diakhiri dengan Alif dan Nun tambahan.
-
Illatnya adalah sifat dan tambahan alif dan nun.
-
Contoh:
- عَطْشَانُ (haus)
- جَوْعَانُ (lapar)
- غَضْبَانُ (marah)
- سَكْرَانُ (mabuk)
- فَرْحَانُ (gembira)
3. Bilangan dengan Wazan فُعَال dan مَفْعَلُ (الْعَدَدُ الْمَعْدُولُ)
Bilangan yang diubah dari bentuk aslinya ke wazan فُعَال atau مَفْعَلُ. Ini adalah bilangan 1 sampai 10 yang diubah untuk menunjukkan urutan atau kelompok.
-
Illatnya adalah sifat dan ‘adl (perubahan wazan).
-
Contoh:
- أُحَادُ (satu-satu) – dari
وَاحِدٌ - مَوْحَدُ (satu-satu) – dari
وَاحِدٌ - ثُنَاءُ (dua-dua) – dari
اِثْنَانِ - مَثْنَىٰ (dua-dua) – dari
اِثْنَانِ - ثُلَاثُ (tiga-tiga) – dari
ثَلَاثَةٌ - (Dan seterusnya hingga
عُشَارُdanمَعْشَرُ)
Berikut adalah contoh Isim Ghayru Munsharif dalam tiga kondisi I’rab (Rafa’, Nashab, Khafadh/Jar), dengan asumsi memenuhi syarat untuk di-Khafadhkan dengan Fathah (tidak diawali Alif Lam dan tidak di-idhafahkan):
|
No. |
Isim Ghayru Munsharif |
Rafa’ dengan Dhammah |
Nashab dengan Fathah |
Khafadh/Jar dengan Fathah |
Terjemahan (contoh) |
|---|---|---|---|---|---|
|
1 |
أَحْمَدُ (nama) |
أَحْمَدُ |
أَحْمَدَ |
أَحْمَدَ |
Ahmad |
|
2 |
فَاطِمَةُ (nama) |
فَاطِمَةُ |
فَاطِمَةَ |
فَاطِمَةَ |
Fatimah |
|
3 |
مَسَاجِدُ (jamak taksir) |
مَسَاجِدُ |
مَسَاجِدَ |
مَسَاجِدَ |
Masjid-masjid |
|
4 |
أَفْضَلُ (sifat) |
أَفْضَلُ |
أَفْضَلَ |
أَفْضَلَ |
Lebih utama |
|
5 |
عَطْشَانُ (sifat) |
عَطْشَانُ |
عَطْشَانَ |
عَطْشَانَ |
Haus |
Contoh dari Ayat Al-Quran
Mari kita identifikasi Isim Ghayru Munsharif dalam beberapa ayat Al-Qur’an dan jelaskan illatnya:
1. QS. Saba’ (34): 13
يَعْمَلُوْنَ لَهٗ مَا يَشَاۤءُ مِنْ مَّحَارِيْبَ وَتَمَاثِيْلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُوْرٍ رّٰسِيٰتٍۗ اِعْمَلُوْٓا اٰلَ دَاوٗدَ شُكْرًا ۗوَقَلِيْلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ
Mereka (para jin) selalu bekerja untuk Sulaiman sesuai dengan kehendaknya. Di antaranya (membuat) gedung-gedung tinggi, patung-patung, piring-piring (besarnya) seperti kolam dan periuk-periuk yang tetap (di atas tungku). Bekerjalah wahai keluarga Daud untuk bersyukur. Sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang banyak bersyukur.
-
مَحَارِيبَ: Isim Ghayru Munsharif. Illatnya: Shighat Muntahal Jumu’ (wazan مَفَاعِيلُ). Berkedudukan Jar dengan Fathah.
-
تَمَاثِيلَ: Isim Ghayru Munsharif. Illatnya: Shighat Muntahal Jumu’ (wazan مَفَاعِيلُ). Berkedudukan Jar dengan Fathah.
2. QS. Al-Mulk (67): 5
وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاۤءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيْحَ وَجَعَلْنٰهَا رُجُوْمًا لِّلشَّيٰطِيْنِ وَاَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيْرِ
Sungguh, Kami benar-benar telah menghiasi langit dunia dengan bintang-bintang, menjadikannya (bintang-bintang itu) sebagai alat pelempar terhadap setan, dan menyediakan bagi mereka (setan-setan itu) azab (neraka) Sa‘ir (yang menyala-nyala).
-
مَصَابِيحَ: Isim Ghayru Munsharif. Illatnya: Shighat Muntahal Jumu’ (wazan مَفَاعِيلُ). Berkedudukan Jar dengan Fathah.
3. QS. Al-Baqarah (2): 261
مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ
Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.
-
سَنَابِلَ: Isim Ghayru Munsharif. Illatnya: Shighat Muntahal Jumu’ (wazan مَفَاعِلُ). Berkedudukan Jar dengan Fathah.
4. QS. An-Nisa’ (4): 163
اِنَّآ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ كَمَآ اَوْحَيْنَآ اِلٰى نُوْحٍ وَّالنَّبِيّٖنَ مِنْۢ بَعْدِهٖۚ وَاَوْحَيْنَآ اِلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَالْاَسْبَاطِ وَعِيْسٰى وَاَيُّوْبَ وَيُوْنُسَ وَهٰرُوْنَ وَسُلَيْمٰنَ ۚوَاٰتَيْنَا دَاوٗدَ زَبُوْرًاۚ
Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu (Nabi Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya. Kami telah mewahyukan pula kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya‘qub dan keturunan(-nya), Isa, Ayyub, Yunus, Harun, dan Sulaiman. Kami telah memberikan (Kitab) Zabur kepada Daud.
-
Kata: إِبْرَاهِيمَ, إِسْمَاعِيلَ, إِسْحَاقَ, يَعْقُوبَ, عِيسَىٰ, أَيُّوبَ, يُونُسَ, هَارُونَ, سُلَيْمَانَ: Semua adalah Isim Ghayru Munsharif. Illatnya: Alamiyyah (nama) + Ujmah (non-Arab) (dan lebih dari tiga huruf). Berkedudukan Jar dengan Fathah (atau Fathah taqdiri untuk
عِيسَىٰkarena maqshur).
5. QS. Al-Ankabut (29): 10
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّقُوْلُ اٰمَنَّا بِاللّٰهِ فَاِذَآ اُوْذِيَ فِى اللّٰهِ جَعَلَ فِتْنَةَ النَّاسِ كَعَذَابِ اللّٰهِ ۗوَلَىِٕنْ جَاۤءَ نَصْرٌ مِّنْ رَّبِّكَ لَيَقُوْلُنَّ اِنَّا كُنَّا مَعَكُمْۗ اَوَلَيْسَ اللّٰهُ بِاَعْلَمَ بِمَا فِيْ صُدُوْرِ الْعٰلَمِيْنَ
Di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah,” tetapi apabila dia disakiti karena (dia beriman kepada) Allah, dia menganggap cobaan manusia itu seperti siksaan Allah. Akan tetapi, jika datang pertolongan dari Tuhanmu, pasti mereka akan berkata, “Sesungguhnya kami bersama kamu.” Bukankah Allah paling mengetahui apa yang ada di dalam dada semua manusia?
-
أَعْلَمَ: Isim Ghayru Munsharif. Illatnya: Sifat + Wazan Fi’il (أَفْعَلُ). Berkedudukan Jar dengan Fathah.
6. QS. An-Nisa’ (4): 86
وَاِذَا حُيِّيْتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوْا بِاَحْسَنَ مِنْهَآ اَوْ رُدُّوْهَا ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيْبًا
Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan (salam), balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya atau balaslah dengan yang sepadan. Sesungguhnya Allah Maha Memperhitungkan segala sesuatu.
-
بِأَحْسَنَ: Isim Ghayru Munsharif. Illatnya: Sifat + Wazan Fi’il (أَفْعَلُ). Berkedudukan Jar dengan Fathah.
7. QS. Al-Baqarah (2): 47
يٰبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اذْكُرُوْا نِعْمَتِيَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَاَنِّيْ فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعٰلَمِيْنَ
Wahai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan sesungguhnya Aku telah melebihkan kamu daripada semua umat di alam ini (pada masa itu).
-
إِسْرَائِيلَ: Isim Ghayru Munsharif. Illatnya: Alamiyyah (nama) + Ujmah (non-Arab). Berkedudukan Jar dengan Fathah.
8. QS. Hud (11): 10
وَلَىِٕنْ اَذَقْنٰهُ نَعْمَاۤءَ بَعْدَ ضَرَّاۤءَ مَسَّتْهُ لَيَقُوْلَنَّ ذَهَبَ السَّيِّاٰتُ عَنِّيْ ۗاِنَّهٗ لَفَرِحٌ فَخُوْرٌۙ
Sungguh, jika Kami cicipkan kepadanya (manusia) suatu nikmat setelah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata, “Telah hilang keburukan itu dariku.” Sesungguhnya dia sangat gembira lagi sangat membanggakan diri.
-
نَعْمَاءَ: Isim Ghayru Munsharif. Illatnya: Muannats dengan Alif Ta’nits Mamdudah. Berkedudukan Nashab dengan Fathah.
-
ضَرَّاءَ: Isim Ghayru Munsharif. Illatnya: Muannats dengan Alif Ta’nits Mamdudah. Berkedudukan Jar dengan Fathah.
Ringkasan
-
Isim Ghayru Munsharif adalah isim yang tidak menerima tanwin dan tidak menerima kasrah. Khafadhnya dengan Fathah, kecuali jika diawali Alif Lam atau di-idhafahkan, maka kembali di-khafadhkan dengan Kasrah.
-
Penyebabnya bisa satu illat (yang setara dua illat) atau dua illat.
-
Satu Illat:
- Shighat Muntahal Jumu’: Jamak Taksir wazan
مَفَاعِلُatauمَفَاعِيلُ. - Muannats dengan Alif Ta’nits: Baik Maqshurah (ى/ا) atau Mamdudah (اء).
-
Dua Illat:
- Alamiyyah (Nama Diri) + Illat Lain:
- Muannats: Nama perempuan (lafzhiy, maknawiy, lafzhiy maknawiy). Kecuali 3 huruf tengah sukun (boleh munsharif/ghairu munsharif).
- ‘Ajam (Non-Arab): Lebih dari 3 huruf.
- Tambahan Alif dan Nun: Seperti
عُثْمَانُ. - Tarkib Mazjiy: Gabungan dua kata.
- Wazan Fi’il: Seperti
أَحْمَدُ. - ‘Adl (Perubahan Wazan): Seperti
عُمَرُ.
- Sifat (Kata Sifat) + Illat Lain:
- Wazan Fi’il: Seperti
أَفْضَلُ. - Tambahan Alif dan Nun: Seperti
عَطْشَانُ. - ‘Adl (Perubahan Wazan): Untuk bilangan
فُعَالdanمَفْعَلُ.
- Wazan Fi’il: Seperti
Soal-Soal
Tentukan apakah kata yang ditebalkan berikut ini adalah Isim Ghayru Munsharif. Jika ya, sebutkan jenisnya dan illatnya. Jika tidak, jelaskan mengapa.
- صَلَّيْتُ فِي مَسَاجِدَ كَثِيرَةٍ.
- Kata: مَسَاجِدَ – “Masjid-masjid”
- هَذَا كِتَابُ إِبْرَاهِيمَ.
- Kata: إِبْرَاهِيمَ – “Ibrahim”
- مَرَرْتُ بِفَاطِمَةَ الْجَمِيلَةِ.
- Kata: فَاطِمَةَ – “Fatimah”
- أَنَا أَفْضَلُ مِنْ زَيْدٍ.
- Kata: زَيْدٍ – “Zaid”
- رَأَيْتُ عُثْمَانَ فِي السُّوقِ.
- Kata: عُثْمَانَ – “Utsman”
Jawaban
- صَلَّيْتُ فِي مَسَاجِدَ كَثِيرَةٍ.
- Kata: مَسَاجِدَ – “Masjid-masjid”
- Isim Ghayru Munsharif? Ya.
- Jenis & Illat: Disebabkan satu illat: Shighat Muntahal Jumu’ (wazan مَفَاعِلُ).
- Penjelasan: Ia adalah jamak taksir yang mengikuti pola
مَفَاعِلُ. Karena itu, ia ghairu munsharif. Di sini ia berkedudukan Jar (setelahفِي) dan tandanya Fathah.
- هَذَا كِتَابُ إِبْرَاهِيمَ.
- Kata: إِبْرَاهِيمَ – “Ibrahim”
- Isim Ghayru Munsharif? Ya.
- Jenis & Illat: Disebabkan dua illat: Alamiyyah (nama) + Ujmah (non-Arab).
- Penjelasan:
إِبْرَاهِيمَadalah nama Nabi yang berasal dari bahasa non-Arab dan lebih dari tiga huruf. Di sini ia berkedudukan Jar (sebagai Mudhaf Ilaih) dan tandanya Fathah.
- مَرَرْتُ بِفَاطِمَةَ الْجَمِيلَةِ.
- Kata: فَاطِمَةَ – “Fatimah”
- Isim Ghayru Munsharif? Ya.
- Jenis & Illat: Disebabkan dua illat: Alamiyyah (nama) + Ta’nits (kemuannatsan).
- Penjelasan:
فَاطِمَةَadalah nama perempuan yang diakhiri dengan Ta Marbuthah. Di sini ia berkedudukan Jar (setelahبِـ) dan tandanya Fathah.
- أَنَا أَفْضَلُ مِنْ زَيْدٍ.
- Kata: زَيْدٍ – “Zaid”
- Isim Ghayru Munsharif? Tidak.
- Jenis & Illat: Isim Mufrad Munsharif.
- Penjelasan:
زَيْدٍadalah nama laki-laki Arab asli yang terdiri dari tiga huruf dan tengahnya sukun. Ia adalah isim munsharif, sehingga menerima tanwin dan kasrah. Di sini ia berkedudukan Jar (setelahمِنْ) dan tandanya Kasrah tanwin.
- رَأَيْتُ عُثْمَانَ فِي السُّوقِ.
- Kata: عُثْمَانَ – “Utsman”
- Isim Ghayru Munsharif? Ya.
- Jenis & Illat: Disebabkan dua illat: Alamiyyah (nama) + Tambahan Alif dan Nun.
- Penjelasan:
عُثْمَانَadalah nama yang diakhiri dengan Alif dan Nun tambahan. Di sini ia berkedudukan Nashab (sebagai Maf’ul Bih) dan tandanya Fathah.
Penutup
Alhamdulillah, kita telah menuntaskan pembahasan yang sangat mendalam mengenai Isim Ghayru Munsharif (Isim Mamnu’ Minash Sharfi). Memahami berbagai jenis dan illat yang menyebabkannya menjadi ghairu munsharif adalah kunci untuk menguasai I’rab Khafadh dengan Fathah, serta mengenali kapan sebuah isim tidak bertanwin.
Ini mengakhiri pembahasan Khafadh/Jar. Pada serial Nahwu Al-Ajurumiyyah berikutnya, insyaallah kita akan memulai pembahasan tentang Tanda-Tanda Jazm (علامات الجزم), yang khusus untuk Fi’il Mudhari’.
Terus semangat dan istiqamah dalam belajar! Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan dan pemahaman bagi kita semua.