Pada Serial Nahwu Al-Ajurumiyyah sebelumnya, kita telah mempelajari bahwa I’rab memiliki empat keadaan utama: rafa’, nashab, khafadh, dan jazm. Kini, kita akan mulai menyelami lebih dalam tentang tanda-tanda yang menunjukkan masing-masing keadaan tersebut. Kita akan memulai dengan keadaan Rafa’ (الرَّفْعُ).

Imam Ibnu Ajurrum رحمه الله dalam kitabnya menjelaskan bahwa:

لِلرَّفْعِ أَرْبَعُ عَلَامَاتٍ: اَلضَّمَّةُ، وَالْوَاوُ، وَالْأَلِفُ، وَالنُّونُ.

“Untuk rafa’ ada empat tanda: Dammah, Wawu, Alif, dan Nun.”

Dari keempat tanda ini, Dammah (الضمة) adalah tanda asli atau tanda utama bagi rafa’. Tanda-tanda lainnya (Wawu, Alif, Nun) adalah tanda pengganti yang muncul pada jenis-jenis kata tertentu.

Imam Ibnu Ajurrum menjelaskan bahwa Dammah menjadi tanda rafa’ pada empat tempat:

فَأَمَّا اَلضَّمَّةُ: فَتَكُونُ عَلَامَةً لِلرَّفْعِ فِي أَرْبَعَةِ مَوَاضِعَ: فِي اَلِاسْمِ اَلْمُفْرَدِ، وَجَمْعِ اَلتَّكْسِيرِ، وَجَمْعِ اَلْمُؤَنَّثِ اَلسَّالِمِ، وَالْفِعْلِ اَلْمُضَارِعِ اَلَّذِي لَمْ يَتَّصِلْ بِآخِرِهِ شَيْءٌ.

“Adapun Dammah, maka ia menjadi tanda rafa’ pada empat tempat: pada Isim Mufrad, Jama’ Taksir, Jama’ Muannats Salim, dan Fi’il Mudhari’ Shahih Akhir yang tidak bersambung dengan apapun di akhirnya.”

Pada Serial Nahwu Al-Ajurumiyyah ini, kita akan fokus secara mendalam pada Dammah sebagai tanda rafa’ khusus pada Isim Mufrad. Tiga tempat lainnya akan kita bahas pada Serial Nahwu Al-Ajurumiyyah selanjutnya.

Isim Mufrad (اَلِاسْمُ اَلْمُفْرَدُ)

Isim Mufrad (اِسْمٌ مُفْرَدٌ) adalah kata benda tunggal, yaitu isim yang menunjukkan makna satu dan tidak berbentuk ganda (mutsanna) maupun jamak (jama’). Isim mufrad juga tidak termasuk dalam kategori al-asma’ al-khamsah (isim-isim yang lima).

Contoh Isim Mufrad

Isim Mufrad Mudzakkar (Laki-laki):

  1. قَلَمٌ : Pena
  2. بَيْتٌ : Rumah
  3. طَالِبٌ : Siswa
  4. مُعَلِّمٌ : Guru
  5. مَسْجِدٌ : Masjid

Isim Mufrad Muannats (Perempuan):

  1. شَجَرَةٌ : Pohon
  2. بِنْتٌ : Anak perempuan
  3. مَدْرَسَةٌ : Sekolah
  4. سَيَّارَةٌ : Mobil
  5. وَرْدَةٌ : Bunga

Isim Mufrad yang Tidak Menerima Tanwin (Isim Ghairu Munsharif):

  1. أَحْمَدُ : Ahmad (nama laki-laki dengan wazan fi’il)
  2. فَاطِمَةُ : Fatimah (nama perempuan)
  3. مَكَّةُ : Mekkah (nama tempat)
  4. أَفْضَلُ : Lebih utama (isim sifat dengan wazan af’alu)
  5. إِبْرَاهِيمُ : Ibrahim (nama non-Arab)

Tanda Rafa’ Dammah pada Isim Mufrad

Ketika isim mufrad berada dalam keadaan rafa’ (misalnya sebagai subjek/fa’il, mubtada’, atau khabar), maka tanda rafa’-nya adalah dammah yang tampak (lafzhi) atau kadang dammah muqaddarah (taqdiri) jika ada penghalang seperti huruf illat alif atau ya’ mutakallim.

Contoh-Contoh

  1. جَاءَ مُحَمَّدٌ. (Muhammad telah datang.)
    • Penjelasan I’rab: Kata مُحَمَّدٌ adalah isim mufrad, berkedudukan sebagai fa’il (subjek) dari fi’il جَاءَ. Oleh karena itu, ia marfu’ dengan tanda dammah tanwin yang tampak di akhirnya.
  2. اَلْكِتَابُ جَدِيدٌ. (Kitab itu baru.)
    • Penjelasan I’rab: Kata اَلْكِتَابُ adalah isim mufrad, berkedudukan sebagai mubtada’ (subjek awal kalimat nominal). Ia marfu’ dengan tanda dammah yang tampak.
    • Kata جَدِيدٌ juga isim mufrad, berkedudukan sebagai khabar (predikat). Ia marfu’ dengan tanda dammah tanwin yang tampak.
  3. حَضَرَ الرَّجُلُ. (Laki-laki itu telah hadir.)
    • Penjelasan I’rab: Kata الرَّجُلُ adalah isim mufrad, berkedudukan sebagai fa’il. Ia marfu’ dengan tanda dammah yang tampak.
  4. اَلْقَلَمُ جَمِيلٌ. (Pena itu indah.)
    • Penjelasan I’rab: Kata اَلْقَلَمُ adalah isim mufrad, berkedudukan sebagai mubtada’. Ia marfu’ dengan tanda dammah yang tampak.
    • Kata جَمِيلٌ juga isim mufrad, berkedudukan sebagai khabar. Ia marfu’ dengan tanda dammah tanwin yang tampak.
  5. اَلْمُعَلِّمُ مَاهِرٌ. (Guru itu mahir.)
    • Penjelasan I’rab: Kata اَلْمُعَلِّمُ adalah isim mufrad, berkedudukan sebagai mubtada’. Ia marfu’ dengan tanda dammah yang tampak.
    • Kata مَاهِرٌ juga isim mufrad, berkedudukan sebagai khabar. Ia marfu’ dengan tanda dammah tanwin yang tampak.

Contoh dari Al-Qur’an

مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللّٰهِ ۗوَالَّذِيْنَ مَعَهٗٓ اَشِدَّاۤءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاۤءُ بَيْنَهُمْ تَرٰىهُمْ

Nabi Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir (yang bersikap memusuhi), tetapi berkasih sayang sesama mereka. (QS. Al-Fath: 29)

  • Penjelasan I’rab: Kata مُحَمَّدٌ adalah isim mufrad, berkedudukan sebagai mubtada’ (subjek). Oleh karena itu, ia marfu’ dengan tanda dammah tanwin yang tampak di akhirnya.

  • Kata رَّسُوْلُ juga isim mufrad, berkedudukan sebagai khabar (predikat). Ia marfu’ dengan tanda dammah yang tampak.

قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهِ اسْتَعِيْنُوْا بِاللّٰهِ وَاصْبِرُوْاۚ اِنَّ الْاَرْضَ لِلّٰهِ ۗيُوْرِثُهَا مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ

Musa berkata kepada kaumnya, “Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah. Sesungguhnya bumi (ini) milik Allah. Dia akan mewariskannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Kesudahan (yang baik) adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-A’raf: 128)

  • Penjelasan I’rab: Kata مُوْسٰى adalah isim mufrad (lebih spesifik: isim maqshur), berkedudukan sebagai fa’il dari fi’il قَالَ. Ia marfu’ dengan tanda dammah muqaddarah (diperkirakan) karena ta’adzdzur (ketidakmungkinan munculnya harakat pada alif). Ini adalah contoh dammah taqdiri pada isim mufrad.

وَاَخِيْ هٰرُوْنُ هُوَ اَفْصَحُ مِنِّيْ لِسَانًا فَاَرْسِلْهُ مَعِيَ رِدْءًا يُّصَدِّقُنِيْٓ ۖاِنِّيْٓ اَخَافُ اَنْ يُّكَذِّبُوْنِ

Adapun saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya daripadaku. Maka, utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan)-ku. Sesungguhnya aku takut mereka akan mendustakanku.” (QS. Al-Qashash: 34)

  • Penjelasan I’rab: Kata اَخِيْ adalah isim mufrad (lebih spesifik: salah satu dari al-asma’ al-khamsah yang bersambung dengan ya’ mutakallim), berkedudukan sebagai mubtada’. Ia marfu’ dengan tanda dammah muqaddarah (diperkirakan) karena munasabah (tersibukkannya akhir kata dengan harakat kasrah yang sesuai dengan ya’ mutakallim).

  • Kata هٰرُوْنُ adalah isim mufrad (nama diri), berkedudukan sebagai badal (pengganti) dari أَخِي yang marfu’. Ia marfu’ dengan tanda dammah yang tampak.

Ringkasan

  • Dammah adalah tanda asli untuk keadaan rafa’.
  • Dammah menjadi tanda rafa’ pada Isim Mufrad.
  • Isim Mufrad adalah kata benda tunggal yang tidak berbentuk ganda atau jamak, dan bukan dari al-asma’ al-khamsah.
  • Tanda dammah pada isim mufrad bisa tampak (lafzhi) atau diperkirakan (taqdiri) jika ada penghalang seperti huruf illat alif (ta’adzdzur) atau ya’ mutakallim (munasabah).

Latihan Soal

  1. Sebutkan empat tanda rafa’.
  2. Sebutkan empat tempat di mana dammah menjadi tanda rafa’.
  3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Isim Mufrad.
  4. Identifikasi dan jelaskan i’rab kata رَسُوْلُ dalam ayat مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللّٰهِ. (QS. Al-Fath: 29).
  5. Mengapa i’rab kata مُوْسٰى dalam ayat قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهِ (QS. Al-A’raf: 128) adalah rafa’ dengan dammah muqaddarah?

Jawaban

  1. Sebutkan empat tanda rafa’.
    • Dammah, Wawu, Alif, dan Nun.
  2. Sebutkan empat tempat di mana dammah menjadi tanda rafa’.
    • Isim Mufrad, Jama’ Taksir, Jama’ Muannats Salim, dan Fi’il Mudhari’ Shahih Akhir yang tidak bersambung dengan apapun di akhirnya.
  3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Isim Mufrad.
    • Isim Mufrad adalah kata benda tunggal yang menunjukkan makna satu, tidak berbentuk ganda atau jamak, dan bukan dari al-asma’ al-khamsah.
  4. Identifikasi dan jelaskan i’rab kata رَسُوْلُ dalam ayat مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللّٰهِ. (QS. Al-Fath: 29).
    • Kata رَسُولُ adalah isim mufrad, berkedudukan sebagai khabar dari mubtada’ مُحَمَّدٌ. Ia marfu’ dengan tanda dammah yang tampak.
  5. Mengapa i’rab kata مُوْسٰى dalam ayat قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهِ (QS. Al-A’raf: 128) adalah rafa’ dengan dammah muqaddarah?
    • Karena مُوسَىٰ adalah isim mufrad yang berakhiran alif (isim maqshur), sehingga harakat dammah tidak mungkin tampak (ta’adzdzur).

Penutup

Alhamdulillah, pada Serial Nahwu Al-Ajurumiyyah ini kita telah membahas secara mendalam tentang Dammah sebagai tanda rafa’ khusus pada Isim Mufrad. Kita telah memahami definisinya, melihat contoh-contohnya dari bahasa Arab umum dan Al-Qur’an, serta menganalisis i’rabnya.

Insya Allah, pada Serial Nahwu Al-Ajurumiyyah berikutnya kita akan melanjutkan pembahasan tanda rafa’ dammah pada tempat kedua, yaitu Jama’ Taksir. Tetaplah bersemangat dalam menuntut ilmu nahwu, dan semoga Allah SWT senantiasa memberikan kemudahan dan pemahaman kepada kita semua.