Pada Serial Nahwu Al-Ajurumiyyah sebelumnya, kita telah membahas Fathah (الْفَتْحَةُ) sebagai tanda asli nashab yang muncul pada Isim Mufrad, Jama’ Taksir, dan Fi’il Mudhari’ Shahih Akhir. Kini, kita akan melanjutkan pembahasan tanda-tanda nashab dengan fokus pada tanda pengganti yang kedua, yaitu Alif (الْأَلِفُ).

Mari kita ingat kembali penjelasan Imam Ibnu Ajurrum رحمه الله mengenai tanda-tanda nashab:

وَلِلنَّصْبِ خَمْسُ عَلَامَاتٍ: الْفَتْحَةُ، وَالْأَلِفُ، وَالْكَسْرَةُ، وَالْيَاءُ، وَحَذْفُ النُّونِ.

“Untuk nashab ada lima tanda: Fathah, Alif, Kasrah, Ya’, dan Membuang Nun.”

Dan matan beliau menjelaskan tempat Alif menjadi tanda nashab:

وَأَمَّا الْأَلِفُ: فَتَكُونُ عَلَامَةً لِلنَّصْبِ فِي الْأَسْمَاءِ الْخَمْسَةِ، نَحْوَ: “رَأَيْتُ أَبَاكَ وَأَخَاكَوَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ.

“Adapun Alif, maka ia menjadi tanda nashab pada Al-Asma’ Al-Khamsah (lima isim khusus), contohnya: “Aku melihat ayahmu dan saudaramu” dan yang serupa dengan itu.”

Pada Serial Nahwu Al-Ajurumiyyah kali ini, kita akan fokus secara mendalam pada Alif sebagai tanda nashab khusus pada Al-Asma’ Al-Khamsah.

Alif sebagai Tanda Nashab pada Al-Asma’ul Khamsah

Al-Asma’ Al-Khamsah (الْأَسْمَاءُ الْخَمْسَةُ) adalah kelompok lima isim mufrad tertentu yang memiliki kekhususan dalam i’rab-nya. Mereka di-i’rab dengan menggunakan huruf (wawu untuk rafa’, alif untuk nashab, dan ya’ untuk khafadh) sebagai tanda i’rab, bukan dengan harakat seperti isim mufrad pada umumnya. Kelima isim tersebut adalah:

  1. أَبٌ : Ayah
  2. أَخٌ : Saudara laki-laki
  3. حَمٌ : Ayah mertua (atau kerabat suami/istri)
  4. فُو : Mulut (dalam bentuk فُوْكَ, فَاكَ, فِيكَ)
  5. ذُو : Pemilik (dalam bentuk ذُو مَالٍ, ذَا مَالٍ, ذِي مَالٍ – harus disandarkan kepada isim jenis)

Agar Al-Asma’ Al-Khamsah di-i’rab dengan alif sebagai tanda nashab, keenam syarat yang telah kita bahas di Serial Nahwu Al-Ajurumiyyah sebelumnya (untuk tanda rafa’ wawu) juga harus terpenuhi. Syarat-syarat tersebut berlaku untuk semua keadaan i’rab (rafa’, nashab, khafadh) agar mereka di-i’rab dengan huruf. Mari kita ulangi secara singkat:

  1. Mufrad (مُفْرَدٌ): Isim tersebut harus dalam bentuk tunggal.
  2. Mukabbar (مُكَبَّرٌ): Isim tersebut harus dalam bentuk aslinya, bukan tashghir (diminutif).
  3. Mudhafah (مُضَافَةٌ): Isim tersebut harus disandarkan (idhafah) kepada isim lain (baik isim zhahir maupun dhamir).
  4. Idhafah bukan dengan Ya’ Mutakallim (إِضَافَةٌ إِلَى غَيْرِ يَاءِ الْمُتَكَلِّمِ): Isim tersebut harus disandarkan kepada selain ya’ mutakallim (ياء المتكلم – dhamir ‘ku’).
  5. Lafadz فُو tidak dengan Mim (لَفْظُ فُو لَا بِالْمِيمِ): Kata فُو (mulut) harus dalam bentuk tanpa huruf mim (م) di akhirnya.
  6. Lafadz ذُو harus bermakna “yang memiliki” (لَفْظُ ذُو بِمَعْنَى صَاحِبٍ): Kata ذُو harus bermakna “pemilik” dan disandarkan kepada isim jenis.

Ketika Al-Asma’ Al-Khamsah berada dalam keadaan nashab (misalnya sebagai maf’ul bih, khabar dari kana dan saudara-saudaranya, atau isim dari inna dan saudara-saudaranya) dan memenuhi keenam syarat di atas, maka tanda nashab-nya adalah alif (ا) yang tampak di akhirnya, menggantikan fathah.

Contoh-contoh:

  1. رَأَيْتُ أَبَاكَ. (Aku melihat ayahmu.)
    • Penjelasan I’rab: Kata أَبَاكَ adalah salah satu dari Al-Asma’ Al-Khamsah, berkedudukan sebagai maf’ul bih. Ia manshub dengan tanda alif (ا) sebagai pengganti fathah.
  2. أُحِبُّ أَخَاكَ. (Aku menyayangi saudaramu.)
    • Penjelasan I’rab: Kata أَخَاكَ adalah salah satu dari Al-Asma’ Al-Khamsah, berkedudukan sebagai maf’ul bih. Ia manshub dengan tanda alif (ا) sebagai pengganti fathah.
  3. زُرْتُ حَمَاكَ. (Aku mengunjungi ayah mertuamu.)
    • Penjelasan I’rab: Kata حَمَاكَ adalah salah satu dari Al-Asma’ Al-Khamsah, berkedudukan sebagai maf’ul bih. Ia manshub dengan tanda alif (ا) sebagai pengganti fathah.
  4. نَظَّفْتُ فَاكَ. (Aku membersihkan mulutmu.)
    • Penjelasan I’rab: Kata فَاكَ adalah salah satu dari Al-Asma’ Al-Khamsah, berkedudukan sebagai maf’ul bih. Ia manshub dengan tanda alif (ا) sebagai pengganti fathah.
  5. صَاحَبْتُ ذَا عِلْمٍ. (Aku berteman dengan seorang yang berilmu.)
    • Penjelasan I’rab: Kata ذَا عِلْمٍ adalah salah satu dari Al-Asma’ Al-Khamsah, berkedudukan sebagai maf’ul bih. Ia manshub dengan tanda alif (ا) sebagai pengganti fathah.

Contoh dari Al-Qur’an:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ اَبَآ اَحَدٍ مِّنْ رِّجَالِكُمْ وَلٰكِنْ رَّسُوْلَ اللّٰهِ وَخَاتَمَ النَّبِيّٖنَۗ وَكَانَ اللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا

Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, melainkan dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Ahzab: 40)

  • Penjelasan I’rab: Kata أَبَا adalah salah satu dari Al-Asma’ Al-Khamsah, berkedudukan sebagai khabar كَانَ. Ia manshub dengan tanda alif (ا) sebagai pengganti fathah.

وَاذْكُرْ اَخَا عَادٍۗ اِذْ اَنْذَرَ قَوْمَهٗ بِالْاَحْقَافِ وَقَدْ خَلَتِ النُّذُرُ مِنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖٓ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّا اللّٰهَ ۗاِنِّيْٓ اَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيْمٍ

Ingatlah saudara (kaum) ‘Ad (Hud) ketika dia mengingatkan kaumnya (yang tinggal) di (lembah) Ahqaf. Sungguh, telah berlalu para pemberi peringatan sebelum dan setelahnya. (Dia berkata,) “Janganlah kamu menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku khawatir nanti kamu ditimpa azab pada hari yang besar.” (Al-Ahqaf: 21)

  • Penjelasan I’rab: Kata أَخَا adalah salah satu dari Al-Asma’ Al-Khamsah, berkedudukan sebagai maf’ul bih dari fi’il اذْكُرْ. Ia manshub dengan tanda alif (ا) sebagai pengganti fathah.

اَنْ كَانَ ذَا مَالٍ وَّبَنِيْنَۗ

Karena dia kaya dan mempunyai banyak anak. (Al-Qalam: 14)

  • Penjelasan I’rab: Kata ذَا مَالٍ adalah salah satu dari Al-Asma’ Al-Khamsah, berkedudukan sebagai khabar كَانَ yang di-nashabkan oleh أَنْ. Ia manshub dengan tanda alif (ا) sebagai pengganti fathah.

وَلَقَدْ اَرْسَلْنَآ اِلٰى ثَمُوْدَ اَخَاهُمْ صٰلِحًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ فَاِذَا هُمْ فَرِيْقٰنِ يَخْتَصِمُوْنَ

Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus kepada (kaum) Samud saudara mereka (sesuku), yaitu Saleh (yang menyeru), “Sembahlah Allah!” Tiba-tiba mereka (menjadi) dua golongan yang bermusuhan. (An-Naml: 45)

  • Penjelasan I’rab: Kata أَخَاهُمْ adalah salah satu dari Al-Asma’ Al-Khamsah, berkedudukan sebagai maf’ul bih dari fi’il أَرْسَلْنَا. Ia manshub dengan tanda alif (ا) sebagai pengganti fathah.

Ringkasan

  • Alif (ا) adalah tanda pengganti untuk keadaan nashab.

  • Alif menjadi tanda nashab khusus pada Al-Asma’ Al-Khamsah (أَبٌ، أَخٌ، حَمٌ، فُو، ذُو).

  • Agar di-i’rab dengan alif (untuk nashab) dan huruf lainnya (wawu untuk rafa’, ya’ untuk khafadh), Al-Asma’ Al-Khamsah harus memenuhi enam syarat tertentu.

  • Tanda alif pada Al-Asma’ Al-Khamsah selalu tampak (lafzhi).

Soal-soal

  1. Sebutkan lima tanda nashab yang disebutkan dalam matan Al-Ajurrumiyyah.
  2. Kapan Alif menjadi tanda nashab?
  3. Sebutkan kelima isim yang termasuk dalam Al-Asma’ Al-Khamsah.
  4. Jelaskan tiga dari enam syarat agar Al-Asma’ Al-Khamsah di-i’rab dengan huruf (alif untuk nashab, wawu untuk rafa’, ya’ untuk khafadh).
  5. Berikan satu contoh Al-Asma’ Al-Khamsah yang manshub dengan alif (dari bahasa umum) beserta terjemahan dan penjelasan i’rabnya.
  6. Identifikasi dan jelaskan i’rab kata أَبَا dalam ayat مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ. (QS. Al-Ahzab: 40).
  7. Mengapa kata أَبَاكَ di-nashab dengan alif, sedangkan فَمٌ (mulut) tidak di-nashab dengan alif?

Jawaban

  1. Sebutkan lima tanda nashab yang disebutkan dalam matan Al-Ajurrumiyyah.
    • Jawaban: Fathah (الْفَتْحَةُ), Alif (الْأَلِفُ), Kasrah (الْكَسْرَةُ), Ya’ (الْيَاءُ), dan Membuang Nun (حَذْفُ النُّونِ).
  2. Kapan Alif menjadi tanda nashab?
    • Jawaban: Alif menjadi tanda nashab khusus pada Al-Asma’ Al-Khamsah.
  3. Sebutkan kelima isim yang termasuk dalam Al-Asma’ Al-Khamsah.
    • Jawaban: أَبٌ, أَخٌ, حَمٌ, فُو, ذُو.
  4. Jelaskan tiga dari enam syarat agar Al-Asma’ Al-Khamsah di-i’rab dengan huruf (alif untuk nashab, wawu untuk rafa’, ya’ untuk khafadh).
    • Jawaban: (Pilih tiga dari berikut)
      • Mufrad: Harus dalam bentuk tunggal.
      • Mukabbar: Harus dalam bentuk aslinya, bukan tashghir.
      • Mudhafah: Harus disandarkan kepada isim lain.
        • Idhafah bukan dengan Ya’ Mutakallim: Tidak disandarkan kepada dhamir ‘ku’.
        • Lafadz فُو tidak dengan Mim: Harus dalam bentuk فُو, bukan فَمٌ.
        • Lafadz ذُو bermakna “yang memiliki”: Harus bermakna pemilik.
  5. Berikan satu contoh Al-Asma’ Al-Khamsah yang manshub dengan alif (dari bahasa umum) beserta terjemahan dan penjelasan i’rabnya.
    • Jawaban: نَصَحْتُ أَخَاكَ. (Aku menasihati saudaramu.)
      • Penjelasan I’rab: أَخَاكَ adalah salah satu dari Al-Asma’ Al-Khamsah, berkedudukan sebagai maf’ul bih. Ia manshub dengan tanda alif (ا) sebagai pengganti fathah. (Contoh lain juga diterima)
  6. Identifikasi dan jelaskan i’rab kata أَبَا dalam ayat مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ. (QS. Al-Ahzab: 40).
    • Jawaban: Kata أَبَا adalah salah satu dari Al-Asma’ Al-Khamsah, berkedudukan sebagai khabar كَانَ. Ia manshub dengan tanda alif (ا) sebagai pengganti fathah.
  7. Mengapa kata أَبَاكَ di-nashab dengan alif, sedangkan فَمٌ (mulut) tidak di-nashab dengan alif?
    • Jawaban: Kata أَبَاكَ di-nashab dengan alif karena memenuhi syarat Al-Asma’ Al-Khamsah (termasuk disandarkan kepada kaf dan tidak disandarkan kepada ya’ mutakallim). Sementara itu, kata فَمٌ tidak di-nashab dengan alif karena ia memiliki huruf mim (م) di akhirnya. Salah satu syarat Al-Asma’ Al-Khamsah di-i’rab dengan huruf adalah lafazh فُو harus tanpa mim. Oleh karena itu, فَمٌ akan di-i’rab seperti isim mufrad biasa (misalnya, manshub dengan fathah).

Penutup

Alhamdulillah, pada Serial Nahwu Al-Ajurumiyyah ini kita telah membahas secara mendalam tentang Alif sebagai tanda nashab khusus pada Al-Asma’ Al-Khamsah. Kita telah memahami definisinya, syarat-syaratnya, dan melihat contoh-contohnya dari bahasa Arab umum dan Al-Qur’an, lengkap dengan analisis i’rabnya.

Insya Allah, pada Serial Nahwu Al-Ajurumiyyah berikutnya, kita akan melanjutkan pembahasan tanda nashab lainnya, yaitu Kasrah pada Jama’ Muannats Salim. Tetaplah bersemangat dalam menuntut ilmu nahwu, dan semoga Allah SWT senantiasa memberikan kemudahan dan pemahaman kepada kita semua.